LATAR BELAKANG Kemerdekaan Indonesia dicapai dengan perjuangan yang panjang dan sarat dengan pengorbanan dari putra dan putri terbaik bangsa. Mereka saat ini mendapat kehormatan dengan pemberian gelar “Pahlawan”. Oleh karena itu sebagai anak bangsa sudah sepantasnya kalau kita menghargai jasa para pahlawan dan meneladani perjuangannya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Bagi generasi muda mengenal dan memahami perjuangan para pahlawan sangatlah perlu. Hal ini disebabkan dalam perjuangan banyak hikmah yang dapat dipetik. Semangat kepahlawanan yang telah diwujudkan oleh para pejuang merupakan amal perjuangan yang dipersembahkan kepada bangsa dan tanah air. Mereka berjuang berdasar jiwa dan semangat rela berkorban untuk bangsanya. Semangat juang yang menggelora, keberanian, rasa kesetiakawanan yang tinggi, strategi dan perhitungan yang tepat, rela berkorban, sifat kegotongroyongan, cinta tanah air dan bangsa, tidak mengenal menyerah serta percaya pada kemampuan diri sendiri adalah nilai-nilai kepahlawanan yang masih relevan dan patut menjadi suri teladan bagi generasi muda. Nilai-nilai kepahlawanan perlu dijunjung tinggi dengan penuh kebanggaan dan diamalkan dalam berbagai kegiatan pembangunan serta kehidupan sehari-hari. Memang harus diakui bahwa nilai-nilai kepahlawanan saat ini cenderung mengalami penurunan dalam pengamalannya. Oleh karena itu pengenalan nilai-nilai kepahlawanan perlu dilakukan dan disosialisasikan pada generasi muda. Berdasarkan pemikiran di atas dan sesuai dengan visi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dalam ikut serta mencerdaskan bangsa, maka pada tahun anggaran 2009 Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta melaksanakan “Lomba Karya Tulis Kesejarahan”. Lomba Karya Tulis Kesejarahan ini dimaksudkan untuk mengajak generasi muda berperan aktif menuangkan idealismenya melalui Lomba Karya Tulis Kesejarahan. TEMA Lomba Karya Tulis Kesejarahan ini mengambil tema: Revitalisasi Nilai-Nilai Kepahlawanan Dalam Rangka Pembentukan Karakter Bangsa. Diharapkan dengan tema ini generasi muda terutama Siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dapat mengungkapkan dalam karya tulisnya tentang nilai-nilai kepahlawanan yang dipahaminya. Dengan demikian diharapkan akan dapat meningkatkan kreativitas siswa yang merupakan generasi muda harapan bangsa. TUJUAN Lomba karya tulis kesejarahan dalam rangka memperingati hari pahlawan tahun 2009 bertujuan: - Menggali dan memperkenalkan nilai-nilai luhur kepahlawanan. - Menyebarluaskan nilai-nilai luhur kepahlawanan bagi generasi muda. - Menumbuhkan semangat cinta tanah air bagi generasi muda. - Menumbuhkan kreativitas, bakat, minat menulis bagi generasi muda. SASARAN Lomba karya tulis kesejarahan ini ditujukan pada generasi muda dari siswa-siswi SMA, SMK, Madrasah Aliyah dan sekolah yang sederajat dari 3 Provinsi yaitu: Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. KETENTUAN LOMBA Karya tulis harus asli, bukan kutipan, terjemahan atau saduran dari tulisan orang lain, dan belum pernah diikutsertakan dalam lomba karya tulis manapun, serta belum pernah dipublikasikan. Karya tulis disusun dengan menggunakan ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan dalam bentuk ilmiah populer, dan harus mengacu salah satu judul yang telah ditetapkan oleh panitia. Karya tulis diketik dengan jarak 2 (dua) spasi menggunakan kertas HVS ukuran kuarto sebanyak 15 – 20 halaman tidak timbal balik (tidak termasuk lampiran, daftar isi, dan foto). Karya tulis yang jumlah halamannya kurang atau melebihi dari ketentuan tersebut tidak akan dinilai oleh dewan juri. Lomba bersifat karya individu, bukan kelompok. Masing-masing peserta bisa mengirim maximal 2 (dua) judul. Karya tulis dibuat rangkap tiga dan dikirim langsung atau melalui pos dalam amplop tertutup pada sudut kiri atas amplop ditulis “Lomba Karya Tulis Kesejarahan“, atau dapat diserahkan langsung ke Panitia Lomba Karya Tulis Kesejarahan yang beralamat di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, Jalan Brigjen Katamso No.139 Yogyakarta 55152 Telp. (0274) 373241, E-mail: senitra@bpsnt-jogja.info. Karya tulis dilengkapi dengan identitas diri sebagai berikut: a. Nama, tempat dan tanggal lahir peserta. b.Foto copy kartu pelajar atau surat keterangan sekolah, nomor telepon sekolah atau fax, nomor telepon peserta (HP). Karya tulis yang masuk menjadi hak panitia sepenuhnya. Lomba karya tulis dimulai tanggal 1 April 2009 dan ditutup tanggal 15 Oktober 2009 (cap pos). JUDUL Adapun judul-judul yang bisa dipilih oleh peserta sebagai berikut: 1. Kepahlawanan Di Mata Generasi Muda 2. Nilai-Nilai Kepahlawanan Di Era Reformasi 3. Pendapat Saya Tentang Sosok Pahlawan 4. Menyambut Hari Pahlawan Tahun 2009: Potret Diri Anak Zaman 5. Generasi Muda Sebagai Pewaris Nilai-Nilai Kepahlawanan 6. Dengan Semanagat Kepahlawanan Kita Wujudkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa 7. Nilai-Nilai Kepahlawanan Dalam Pembentukan Karakter Bangsa 8. Nilai-Nilai Kepahlawanan Sesuai Jiwa Zaman 9. Nilai-Nilai Kepahlawanan Dan Semangat Generasi Muda Dalam Melestarikan Kehidupan Bangsa 10. Pahlawan Dan Jati Diri Bangsa KETENTUAN PEMENANG Penilaian melalui dua tahap yaitu penilaian naskah dan penilaian presentasi. Penilaian naskah tahap pertama untuk menentukan enam naskah terbaik dimulai pada tanggal 20 Oktober 2009. Naskah yang masuk nominasi diumumkan lewat surat kabar dan pemberitahuan langsung kepada pemenang lewat sekolah atau telepon pribadi yang bersangkutan. Penilaian final untuk menentukan pemenang I sampai VI melalui presentasi dihadapan dewan juri, peserta dan undangan pada tanggal 10 November 2009. Pengumuman juara dan penyerahan hadiah dilaksanakan setelah presentasi pada tanggal 10 November 2009. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat. HADIAH Panitia menyediakan hadiah berupa tropi, piagam dan uang pembinaan masing-masing sebesar: Juara I Rp. 2.200.000,00 Juara II Rp. 1.900.000,00 Juara III Rp. 1.600.000,00 Harapan I Rp. 1.350.000,00 Harapan II Rp. 1.100.000,00 Harapan III Rp. 850.000,00. Pajak ditanggung pemenang. MANFAAT DAN DAMPAK Manfaat - Mendorong generasi muda agar berusaha menggunakan sejarah sebagai cermin dalam kehidupan. - Menumbuhkan sikap positif kepada generasi muda terhadap nilai-nilai kepahlawanan baik secara kognitif maupun afektif. - Meningkatkan penggunaan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. - Menumbuhkan sikap dan semangat nasionalisme kepada generasi muda dengan jalan memahami dan meneladani perjuangan para pahlawan. - Menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas, bakat, serta minat siswa SMA, SMK dan Madrasah Aliyah dalam lomba karya tulis. Dampak - Mendorong generasi muda untuk mengenal dan mencintai sejarah. - Dapat menanggulangi pengaruh globalisasi yang negatif. - Generasi muda akan lebih termotifasi untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif. |
Home » Posts filed under Makalah
Makalah hari pahlawan
Makalah tentang kurban
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat taufik dan hidayah-Nya kami menyusun makalah agama Islam tentang qurban ini.Makalah ini mengacu pada kurikulum 2006. Penyusun makalah ini disajikan dengan bahasa yang komunikatif dan penjelasannya yang ringkas, padat, serta jelas dimaksud untuk membantu mempermudah rekan siswa dalam menelah bahan makala agama Islam tentang Qurban ini.
Penyusun sudah berupaya semaksimal mungkin untuk dapat menyajikan makalah ini agar benar-benar bermanfaat, mudah dipahami dan dapat diterima oleh rekan siswa.
Demikian kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna karena itu yang berupa saran dan kritik membangun sangat kami harapkan.
DAFTAR ISI
KataPengantar ………………………………………………………………………………..1DaftarIsi ………………………………………………………………………………………..2
BAB I Pendahuluan ………………………………………………………………………..3
- Latar Belakang………………………………………………………………….3
- Tujuan……………………………………………………………………………..3
- Pengertian Kurban……………………………………………………………..4
- Hukum Berkurban……………………………………………………………..4
- Jenis dan Syarat Hewan untuk Berkurban…………………………….5
- Syarat-syarat Hewan Kurban………………………………………………6
- Syarat dan Waktu Berkurban……………………………………………..6
- Cara Penyembelihan dan Do`a Berkurban……………………………6
- Hikmah dari Berkurban……………………………………………………..7
- Kesimpulan……………………………………………………………………..8
- Saran………………………………………………………………………………8
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
- Tujuan
Kegiatan kurban dilaksanakan oleh orang Islam. Kurban dilaksanakan setelah menunaikan ibadah shalat Idul Adha. Kita juga boleh ikut menyumbangkan hewan untuk dijadikan kurban.
Demikian yang bisa kami sampaikan. Semoga dengan dibuatnya makalah agama yang membahas tentang Kurban ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Kami selaku pembuat mengharapkan semua bisa memanfaatkan makalah ini. Sekian dan terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
- Pengertian Kurban
Perintah menyembelih Kurban
Firman Allah SWT:
اڼااءطٻڼڬالکۏٽڕ﴿١﴾ﻓﺻﻞﻠﺭﺒﻙواﻨﺣﺭ﴿٢﴾انﺸﺎﻨﺋﻙﻫﻭاﻻﺒﺗﺭ﴿٣﴾
Artinya: ”Sesungguhnya kami memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu da berkubanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”(QS. Al-Kautsar ayat 1-3)- Hukum Berkurban ada 3,yaitu:
- Wajib bagi yang mampu
اڼااءطٻڼڬالکۏٽڕ﴿١﴾ﻓﺻﻞﻠﺭﺒﻙواﻨﺣﺭ﴿٢﴾انﺸﺎﻨﺋﻙﻫﻭاﻻﺒﺗﺭ﴿٣﴾
Artinya: ”Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikan lah shalat karena Tuhanmu dan berkubanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar 1-3)- Sunnah
ﻘﺎﻞاﻤﺭﺖﺒﺎﻠﻧﺣﺭﻮﻫﻭﺴﺑﺔﻠﻛﻡ
Artinya: Nabi SAW bersabda: ”Saya diperintah untuk menyembelih kurban dan kurban itu sunnah bagi kamu.”- Sunnah Muakkad
ﻜﺗﺏﻋﻝﺍﻠﻧﺣﺭﻮﻠﯾﺱﺒﻭﺍﺠﺏﻋﻟﯾﻛﻡ
Artinya: ”Diwajibkan melaksanakan kurban bagiku dan tidak wajib atas kamu.”(HR. Daruqutni)- Jenis dan syarat hewan untuk Kurban
- Domba : syaratnya telah berumur 1 tahun lebih atau sudah berganti gigi.
- Kambing : syaratnya telah berumur 2 tahun atau lebih.
- Sapi atau Kerbau : syaratnya yelah berumur 2 tahun atau lebih.
- Unta : syaratnya telah berumur 5 tahun atau lebih.
Jelas-jelas sakit
Sangat kurus
Sebelah matanya tidak berfungsi atau keduanya
Pincang
Putus telinga
Putus ekor
Dst
- Syarat-syarat hewan Kurban
- Hewan yang dijadikan untuk kurban hendaklah hewan jantan yang sehat, bagus, bersih, tidak ada cacat seperti buta, pincang, sangat kurus, tidak terpotong telinganya sebelah atau ekornya terpotong dan sebagainya.
- Hewan yang dikurban
- Syarat dan waktu melaksanakan Kurban
Dilaksanakan pada bulan Zulhijah
Waktu penyembelihan kurban pada tanggal 10 Zulhijah setelah shalat hari raya Idul Adha, dilanjutkan pada hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan tanggal 13 Zulhijah sampai terbenam matahari.
- Cara penyembelihan dan do`a berkurban
- Cara menyembelih sama dengan penyembelihan yang disyaratkan Islam, yakni penyembelih harus orang Islam (khusus kurban, sunnah penyembelih adalah yang berkurban sendiri, jika diwakilkan disunatkan hadiri pada waktu penyembelihannya)
- Alat untuk menyembelih harus benda tajam. Tidak boleh menggunakan gigi, kuku dan tulang.
- Memotong 2 urat yang ada di kiri-kanan leher agar lekas matinya, tetapi jangan sampai putus lehernya (makruh).
- Binatang yang disembelih hendaklah digulingkan ke sebelah kiri tulang rusuknya agar mudah saat penyembelihan.
- Hewan yang disembelih disunnahkan dihadapkan ke arah Kiblat.
- Orang yang menyembelih disunatkan membaca:
- Basmalah:
- b. Shalawat:
- c. Takbir
- d. Do`a:
ﺒﺳﻡﺍﷲﺍﻠﺭﺤﻣﻥﺍﻠﺭﺤﯾﻡﺍﻠﻟﻬﻡﻫﺫﻩﻤﻧﻙﻔﺗﻗﺑﻝﻤﻧﯼﺍﻨﻙﺍﻨﺕﺍﺮﺤﻡﺍﻠﺭﺤﻣﯾﻥ
Artinya: ”Ya Allah, kurban ini adalah nikmat dari Engkau dan aku berdekat diri kepada Engkau. Oleh karena itu, terimalah kurbanku! Wahai Zat Yang Maha Pemurah. Engkau Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”- Hikmah dari Kurban
- Menambah cintanya kepada Allah SWT
- Akan menambah keimanannya kepada Allah SWT
- Dengan berkurban, berarti seseorang telah bersyukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan pada dirinya.
- Dengan berkurban, berarti seseorang telah berbakti kepada orang lain, dimana tolong menolong, kasih mengasihi dan rasa solidaritas dan toleransi memang dianjurkan oleh agama Islam.
selengkap nya download Disini
Makalah tentang monas
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………….i
HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………………….ii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN……………...……………………...iii
KATA PENGANTAR………………………………………………………………….iv
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………….vi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………………........................... 1
B. Tujuan ..............……………………………………........................... 1
C. Waktu dan tempat…………………………..…………………........................... 1
BAB II
ZIARAH WALI
A. Sunan Kali Jaga .............……………………………………………................. 2
B. Habib Ahmad Abdullah Bin Tholib Al Alfhos ( Pekalongan ) ...... 2
BAB III
KEGIATAN YANG DILAKUKAN
A. Restoran Markoni ..........................................................……………........ 3
B. Masjid At-Tin ..................................................................…………. 3
C. Taman Mini Indonesia Indah ....................................................................... 3
D. Monumen Nasional ....................................................................... 4
E. Masjid Istiqlal ....................................................................... 5
F. Dunia Fantasi ( Dufan ) ....................................................................... 5
G. Pantai Ancol ....................................................................... 6
H. Pusat Oleh – Oleh ....................................................................... 6
I. Masjid Pemalang ……………………………………………………. ......................... 6
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………………… 7
B. Saran………………………………………………………………… 7
DAFTAR PUSTAKA
STUDY TOUR DAN ZIARAH WALI
PESERTA DIDIK …………..
KARYA TULIS
Diajukan untuk memenuhi syarat Ujian Nasional
Tahun pelajaran 2010 / 2011
(Gambar)
Disusun Oleh:
Kelas :…….
Kelompok :…….
1. ………. 6. ……………..
2. ………… 7. ……………..
3. ……….. 8. .............
4. ……….. 9. .............
5. ……….. 10. .............
( nama sekolah )
TAHUN PEAJARAN 2009 / 2010
PENGESAHAN
Telah di setujui dan di syahkan oleh pembimbing penulisan laporan
Karya tulis (MTS Nurul Huda Dempet) sebagai syarat untuk menempuh Ujia Nasional
dan ujian Madrasah
Tahun Pelajaran 2010 / 2011
Hari : Sabtu
Tanggal : 22 Mei 2010
Dempet, 22 Mei 2010
Mengetahui
Kepala MTS Nurul Huda Dempet Guru Pembimbing
Dra.UMI KHOMDONAH NGATIMAN,S.PdI
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO :
1. Perubahan akan menghasilkan keuntungan
2. Capailah ilmuwalaupun ke Negeri China
3. Buku merupakan gudang ilmu
4. Dimana ada kemauan di situ pasti ada jalan
5. Sesuatu yang tak akan pernah berubah adalah perubahan
6. Tiada kemenangan tanpa ada kekuatan tanpa persatuan
7. Nasehat yang baik adalah tauladan yang baik
8. Sampekan ilmu walau satu ayat
PERSEMBAHAN:
Laporan karya tulis ini kami persembahkan ,dan
Kami ucapkan terima kasih kepada:
1. Kepala MTS Nurul Huda Dempet Ibu Dra,Hj
Umi Khomdonah .
2. Bapak Ngatiman.S.Pdi 1 selaku Guru pembimbing kami.
3. Bapak Rizal S.Ag Selaku Wali kelas VIII E
4. Bapak dan Ibu Guru MTS Nurul Huda Dempet
5. Bapak dan ibu tercinta yang telah memberikan
Do’a restunya,biaya dan motifasi
6. Teman-teman dan Adik-adik kelas yang kami cinta.
KATA PENGANTAR
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat allah SWT yang telah melimpahkan Rahmad dan Hidayah-Nya.sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ini dengan baik .Dalam karya tulis ini kami menguraikan beberapa objek Wisata :Kadilangu,Pekalongan,TMII,MONAS,DUFAN dan Ancol.
Dalam penyusunan karya tulis ini kami dapat mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai fihak,Sehingga pada kesempata ini mengucapka banyak terima kasih kepada yang tehormat :
1. Ibu Hj.Dra.Umi Khomdonah,selaku kepala MTS Nurul Huda Dempet ,karena atas I izinnya kami dapat menyelesaikan karya tulis ini.
2. Bapak Ngatiman,S.Pd I,yang telah membimbing,mengarahkan dan memberi dukungan dan dorongan kepada kami dalam menyusu dan menyelesaikan karya tulis ini.
3. Bapak ibu guru dan karyawan MTS Nurul Huda Dempet yang telah memberi dorongan dalam menyelesaikan karya tulis ini.
4. Teratai Putra Tour yang telah menyediakan jasa transportasi kepada kami untuk mangantar kami ke tempat wisata yang telah di tetapkan.
5. Teman-teman senasib dan seperjuangan yang banyak memberikan semangat dalam menyusun karya tulis ini.
Dengan kerandahan hati,kami hanya dapat memanjatkan Do’a kepada Allah SWT,semoga amal kebaikan kami mendapat imbalan yang setimpak dan menjadi amalan yang bermanfaat .Amien.
Karena berbagai keterbatasan kami menyadari karya tulis ini masih sangat banyak kekeliruan dan kekurangan ,maka demi kelengkapan dan kesempurnaan krya tulis ini,kami meminta dengan sangat himbauan serta saran,kritik yang membangun dari pembaca.dan sebelumnya kami mengucapkan banyak terima kasih.
Penulis
BAB I
PENDAHULUHAN
Ada beberapa tempat wisata yan ada di Indonesia,baik berupa pantai,pagunungan maupun lainnya.Dan beberapa tempat tarsebut kami dapat mmperoleh wawasan dan pengalaman.Dalam laporan ini kami akan menceritakan pengalaman wawasan dan pengalaman yang kami peroleh dari membaca buku maupu melakukan peneltian secara langsung.Kami berharap dalam penyusunan laporan dapat memberikan informasi yang berguna bagi pembaca.
A.Latar Belakang
Sebuah kegiatan sekolah yang diadakan dari tahun ke tahun yang wajib diikti oleh peserta didik,khususnya kelas VIII,karana banyaknya aktifitas yang dilakukan para peserta didik sehingga menjadikan para peserta didik merasa tidak jenuh.oleh karena itu program ini dilaksanakan.
B.Tujuan Dengan diadakan Study Tour oleh MTS Nurul Huda Dempet,maka Study Tour itu sendiri mempunyai beberpa tujuan diantaranya: 1.Untuk menikmati keindahan alam yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa. 2.Untuk menambah wawasan dan pengalaman para peserta didik . 3.Untuk menghilangkan rasa kejenuhanpara peserta didik. 4.Agar para peserta didik pariwisata-pariwisata bersejarah
C.Waktu dan Tempat Adapun Study Tour dilakukan dengan ketentuan
Waktun : 6-9April2010. Tempat : Kadilangu,Pekalongan,Jakarta(TMII,Monumen Nasional, Dunia fantasi,Pantai Ancol)
BAB II
A. Sunan Khalijaga (Khadilangu)
Ziarah yang pertama dilakukan di kadilangu,tepatnya di makam Kanjeng Sunan Kalijaga.Nama kecilnya adalah Raden Mas Said,putranya TumenggungWilatikta,Bupati Tubam.Yaitu dari ibunya yang bernama Dewi Nawangrum.Sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Sarah binti Maulana Ishak dan memperoleh tiga putra ,mereka adalah 1.Raden Umar Said, yang kemudian menjadi Sunan Muria , 2. Dewi Rakayah, 3.Dewi Shofiah.
Sunan Kalijaga adalah Wali yang Asli dari Jawa.Merupakan tokoh yang terkenal yang mempunyai Lima kelebihan utama : 1. berjiwa besar , 2. Toleran, 3. berpandangan tajam, 4. budayawan serta seniman, 5. pujangga, sekarang ini menjadi kanangan banyak masyarakt.makamnya yang terletak di desa kadilangu sebelah timur laut kota demak.
Setelah dimakam Sunan Kalijaga kita semua berdo’a kepada Allah SWT ,serta mando’akan beliau,agar selamat di perjalanan baik di dunia mauoun di akhirat.Ziarah tersebut di pimpin Drs.Muhammad dan selesai berziarah kita melanjutkan perjalanan ke pekalongan.sebelum menaiki bus kami membeli makanan dan minuman untuk persdiaan di dalam bus dan setelah itu kami melanjutkan parjalana ke Pekalongan .
B. Habib Ahmad Abdullah Bin Tholib Al Athos(pekalongan)
Sekitar jam 12.30 WIB.kami tiba di pekalongan kami melaksanakan sholat dhuhur dan asyar dengan di Jama’ Qosor.setelah kami selesai sholat kami meneruskan berziarah ke makamHabi Ahmad Abdullah bin Tholib Al Athos yang dipimpin oleh bapak Amin Suyitno da Do’a dipimpin oleh Bapak Drs.Muhammad .setelah kami berziara kami beristirahat untuk menghilangkan rasa pening,pusing dan ada \pula yang membeli makanan dan minuman di warung setelah kami istirahat ,kami nmeneruskan perjalanan di restaurant Markoni.
BAB IV
PENUTUP
Sebagai penutup karya tulis ini,kami akan menyimpulkan apa yang kami dapat,kami menyadari sepenuhnya masih trdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisan karya tulis ini ,karma keterbatasan pengetauan dan kemampuan kami mengharapkan kritik dan saran dari semua fihak untuk kebaikan di masa yang akan datang.
A. Kesimpulan
Dari karya tulis ini kami dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1.Dengan demikian kita harus berusaha agar pariwisata kita menjadi lebih baik dan meningkat
2. Kita tidak boleh melupakan sejarah bangsa dan kita harus melestarikan apa yang ada di Indonesia.
3.kita harus lebih mencintai terhadap bangsa sendiri.
B. Saran-Saran
Setelah menyusun mengungkapkan kesimpulan ,maka penyusun juga memberikan sedikit saran yang bersifat benbangun :
1. Dalam keinginan kita bersama untuk memajukan pariwisata,maka hars menyumbang dengan ikhlas ,apa yang kita mampu demi majunya bangsa.
2. Termasuk pada peningkatan pelestarian ke pariwisataan
DAFTAR PUSTAKA
-Adurroh Wahid,Dkk.1995.5 Rais’Am Nahdatul Ulamak ‘Yogyakarta:Pustaka pelajar
-Asna Wahyu,Abu Khalid MA.Penerbi Karya Ilmu.
BAB III
KEGIATAN YANG DILAKUKAN
A. Restoran Markoni
Restoran Markoni Subang adalah tempat kita berhenti untuk makan dan istarahat, semua siswa bergiliranuntuk mengambil makanan setelah makan semua siswa melaksanakan sholat magrib dan isya dengan jama’ta’khir di goshor, setelah sholat semua siswa melanjutkan perjalananan ke masjid At-Tin.
B. Masjid AT-TIN
Sekitar jam 02.00 WIB kami tiba di masjid AT-TIN. Waktu kami tiba di masjid AT-TIN sebagian dari kami ada yang tidur mandi dan jalan-jalan menikmati pemandangan sekitar masjid AT-TIN. Dan sekitar jam 04.30 WIB kami melaksanakan sholat subuh berjamaah. Setelah kami sholat subuh kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ).
C. Taman Mini Indonesia Indah ( TMII )
TMII ( Taman Mini Indonesia Indah ) didirikan pada tanggal 20 April 1975 TMII adalah salah satu objek yang banyak di kunjungi oleh wisata baik dari dalam negeri maupun luar negeri. TMII merupakan salah satu objek wisata yang dapat menbangkitkan rasa bangga dan mempertebal rasa kecintaan kita terhadap Tanah Air dan Bangsa.
Pendiri TMII yang semula bernama “ Proyek Miniatur Indonesia Indah “ adalah yayasan Harapan Kita yang di ketuai oleh Hj. Siti Hartinah istri Presiden RI yaitu Jenderal Soeharto yang dikenal dengan sebutan Ibu Tien Soeharto.
Yayasan Harapan kita yang berdiri pada tanggal 23 Agustus 1986 di bawah pimpinan Ibu Tien Soeharto di bantu oleh tokoh wanita seperti Nyonya Zahria Soetomo. Nyonya Sri Dewanti Mohan, dan lain-lain.
Ketika di buka secara resmi oleh presiden pada tanggal 20 April 1975. TMII memiliki 26 anjungan khas daerah, yang merupakan simbol dari rumah adapt 26 propinsi dan TMII memiliki 20 bangunan non anjungan. Timor Timur belum masuk wilayah Indonesia 20 bangunan non anjungan. Timur Timur belum masuk wilayah Indonesia karena masuk dalam kekuasaan Portugal. Baru pada tanggal 1980 di bangun anjungan Timor Timur di TMII.
Pada tanggal 20 April 1975 TMII yang dibangun dengan gotong royong dari segenap lapisan masyarakat yang di prakarsai oleh Yayasan Harapan Kita Yayasan Harapan Kita menyerahkan kepemilikan TMII kepada Pemerintah RI untuk mengelolanya, tapi pemerintah lewat Presiden Soeharto menyerahkan kembali TMII kepada Yayasan Harapan Kita untuk mengelolanya tempat wisata tersebut.
Selanjutnya kami turun dari bus untuk sarapan pagi dirumah adat Daerah Istimewa Yogyakarta., setelah kami sarapan pagi kami melanjutkan jalan-jalan disekitar TMII sambil foto-foto dan melihat pemandangan disekitar TMII. Setelah jalan-jalan kami melanjutkan ke Monumen Nasional ( MONAS ).
D. Monumen Nasional ( MONAS )
1. Latar Belakang
Monumen Nasional di bangun atas dasar gagasan Presiden yang Pertama yaitu Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1961 dan selesai pada tahun 1967 dengan biaya 7 milyar dan mengasilkan waktu 6 Tahun dengan arsiteknya Bapak Soedarsono dan penasehat kontruksi Prof Dr. Innn Rosseno tinggi Monas adalah 132 meter dihitung dari permukaan tanah sampai puncak emasnya.
Puncak emasnya yang terkenal dengan sebutan “ LIDAH API “ karena berbentuk seperti api, yang melambangkan semangat perjungan bangsa Indonesia.
Monumen Nasional di buka untuk umum pada tanggal 18 maret 1972 dan Gubernur DKI Jakarta Bapak ALI SADIKIN.
2. Bagian – Bagian Monas
Monument Nasional memiliki beberapa ruang di antaranya :
1. Ruang Kemerdekaan
Ruang kemerdekaan berbentuk Amphitheater yang terletak pada lawang tugu monas. Yang menyimpan 4 ( empat ) akributnya kemerdekaan yaitu : Bendera Pusaka, peta kepulauan Negara republic Indonesia, lambing Negara dan Pintu Gapwa.
2. Ruang Musium Sejarah
Ruang sejarah ini terletak 3 meter dibawah permukaan halaman tugu Monumen Nasional dengan ukuran 80 X 80 meter. Di dalam ruangan musium terletak di jendela ( Diorama ) yang mengabadikan peristiwa-peristiwa sejarah Zaman kehidupan nenek moyang Indonesia.
Ruang Musium ini terdapat diorama, antara lain :
1. Pertempuran jaga Raya pada tahun 1848-1849
2. Perang Banjar terjadi pada tahun ajaran 185-1905
3. Perang Aceh terjadi pada tahun 185-1904
4. Perang Imam Bonjol terjadi pada tahun 1821-1837
5. Perjuangan Kartini terjadi pada tahun 1879-1904
6. Perang Makasar
7. Tanam Paksa terjadi pada tahun 1830-1870
8. Tanam peserta didik terbentuk pada tanggal 3 juli 1922
9. Kebangkitan nasional terjadi pada tanggal 3 juli 1922
10. Kegiatan gereja protestan dalam menyatukan bangsa dan masih banyak lagi yang lainnya
3. Pelataran Puncak
Pelataran Puncak tugu monumen nasional terletak pada ketinggian 115 meter dan halaman monas yang luasnya IIXII meter ini dapat menampung 50 orang untuk melihat pemandangan disekitar monumen nasional..
4. Lidah api Kemerdekaan
Lidah api di pelataran puncak dari perunggu yang beratnya 14.5 ton tinggi 14 meter berdiameter 6 meter terdiri 77 bagian yang di satukan dan di lapisi oleh emas murni sebesar 50 Kg.
5. Pelataran Cawang
Tinggi pelataran cawang 17 meter dan tinggi ruang kemerdekaan 8 meter luas pelataran cawang yang berbentuk bujur sangkai berukuran 45 m X 45 m dan berat 3.5 ton yang merupakan pelestarian angka keramat proklamasi kemerdekaan RI 17-o8-1945.
E. Masjid Istiqlal
Setelah kami dari monumen nasional(MONAS).kami melanjutkan perjalanan ke masjid Istiqlal untuk menjalankan sholat dhuhur dan asyar dengan di jamak Takdim dan Qosor setelah sholat kami makan siang dan istirahat sejenak sambil jala-jalan di sekitar masjid Istiqlal
F. Dunia Fantasi
Pada sekitar jam 13.30 WIB kami tiba di dunia fantasi(DUFAN).setelah kami turun dai bus kami.di sana kami menikmati berbagai macam permainan yang ada di Dufan diantaranya ’Jets Coster,Tornado,Kora-kora,Glanggang Samudera dan masih banyak lagi.
Selain kami menikmati permainan yang ada kami menyempatkan untuk berfoto-foto dengan badot dan lain-lain sangat senang menikmati wahana di dufan. Setelah capek dan pusing pada jam 17.00 kami kluar dari Dufan menuju lokasi pantai ancol yang tidak jauh lokasinya yang di tempuh dengan jalan kaki.
G. Pantai Ancol.
Setelah kami dari Dufan kami makan di rumah makan laut biru yang telah disediakan oleh biro perjalanan setelah kami makan kami melihat dan menikmati keindahan pantai Ancol dan kita berfoto-foto bersama teman-teman dipantai tempatnya sangat sejuk indah dan menyenangkan dan bersantai melihat keindahan pantai senja hari dan selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke pusat oleh-oleh.
H. Pusat Oleh-Oleh
Setelah kami dari pantai Ancol kami melanjutkan perjalanan menuju pusat oleh-oleh yaitu khususnya di Cikampek, disana kami membeli makanan khas Jakarta setelah kami membeli makanan kami kembali naik bus untuk melanjutkan istirahat dan melanjutkan perjlanan kemesjid Pemalang.
I. Masjid Pemalang
Setelah semalaman kami tidur setelah kecapean di dalam bus untuk melanjutkan perjalanan pulang akhirnya waktu tiba sholat subuh dan kami pun berhenti di masjid Pemalang untuk berjamah setelah selesai kami kembali ke bus untuk melnjutkan perjalanan pulang .
Read more
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………….i
HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………………….ii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN……………...……………………...iii
KATA PENGANTAR………………………………………………………………….iv
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………….vi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………………........................... 1
B. Tujuan ..............……………………………………........................... 1
C. Waktu dan tempat…………………………..…………………........................... 1
BAB II
ZIARAH WALI
A. Sunan Kali Jaga .............……………………………………………................. 2
B. Habib Ahmad Abdullah Bin Tholib Al Alfhos ( Pekalongan ) ...... 2
BAB III
KEGIATAN YANG DILAKUKAN
A. Restoran Markoni ..........................................................……………........ 3
B. Masjid At-Tin ..................................................................…………. 3
C. Taman Mini Indonesia Indah ....................................................................... 3
D. Monumen Nasional ....................................................................... 4
E. Masjid Istiqlal ....................................................................... 5
F. Dunia Fantasi ( Dufan ) ....................................................................... 5
G. Pantai Ancol ....................................................................... 6
H. Pusat Oleh – Oleh ....................................................................... 6
I. Masjid Pemalang ……………………………………………………. ......................... 6
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………………… 7
B. Saran………………………………………………………………… 7
DAFTAR PUSTAKA
STUDY TOUR DAN ZIARAH WALI
PESERTA DIDIK …………..
KARYA TULIS
Diajukan untuk memenuhi syarat Ujian Nasional
Tahun pelajaran 2010 / 2011
(Gambar)
Disusun Oleh:
Kelas :…….
Kelompok :…….
1. ………. 6. ……………..
2. ………… 7. ……………..
3. ……….. 8. .............
4. ……….. 9. .............
5. ……….. 10. .............
( nama sekolah )
TAHUN PEAJARAN 2009 / 2010
PENGESAHAN
Telah di setujui dan di syahkan oleh pembimbing penulisan laporan
Karya tulis (MTS Nurul Huda Dempet) sebagai syarat untuk menempuh Ujia Nasional
dan ujian Madrasah
Tahun Pelajaran 2010 / 2011
Hari : Sabtu
Tanggal : 22 Mei 2010
Dempet, 22 Mei 2010
Mengetahui
Kepala MTS Nurul Huda Dempet Guru Pembimbing
Dra.UMI KHOMDONAH NGATIMAN,S.PdI
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO :
1. Perubahan akan menghasilkan keuntungan
2. Capailah ilmuwalaupun ke Negeri China
3. Buku merupakan gudang ilmu
4. Dimana ada kemauan di situ pasti ada jalan
5. Sesuatu yang tak akan pernah berubah adalah perubahan
6. Tiada kemenangan tanpa ada kekuatan tanpa persatuan
7. Nasehat yang baik adalah tauladan yang baik
8. Sampekan ilmu walau satu ayat
PERSEMBAHAN:
Laporan karya tulis ini kami persembahkan ,dan
Kami ucapkan terima kasih kepada:
1. Kepala MTS Nurul Huda Dempet Ibu Dra,Hj
Umi Khomdonah .
2. Bapak Ngatiman.S.Pdi 1 selaku Guru pembimbing kami.
3. Bapak Rizal S.Ag Selaku Wali kelas VIII E
4. Bapak dan Ibu Guru MTS Nurul Huda Dempet
5. Bapak dan ibu tercinta yang telah memberikan
Do’a restunya,biaya dan motifasi
6. Teman-teman dan Adik-adik kelas yang kami cinta.
KATA PENGANTAR
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat allah SWT yang telah melimpahkan Rahmad dan Hidayah-Nya.sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ini dengan baik .Dalam karya tulis ini kami menguraikan beberapa objek Wisata :Kadilangu,Pekalongan,TMII,MONAS,DUFAN dan Ancol.
Dalam penyusunan karya tulis ini kami dapat mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai fihak,Sehingga pada kesempata ini mengucapka banyak terima kasih kepada yang tehormat :
1. Ibu Hj.Dra.Umi Khomdonah,selaku kepala MTS Nurul Huda Dempet ,karena atas I izinnya kami dapat menyelesaikan karya tulis ini.
2. Bapak Ngatiman,S.Pd I,yang telah membimbing,mengarahkan dan memberi dukungan dan dorongan kepada kami dalam menyusu dan menyelesaikan karya tulis ini.
3. Bapak ibu guru dan karyawan MTS Nurul Huda Dempet yang telah memberi dorongan dalam menyelesaikan karya tulis ini.
4. Teratai Putra Tour yang telah menyediakan jasa transportasi kepada kami untuk mangantar kami ke tempat wisata yang telah di tetapkan.
5. Teman-teman senasib dan seperjuangan yang banyak memberikan semangat dalam menyusun karya tulis ini.
Dengan kerandahan hati,kami hanya dapat memanjatkan Do’a kepada Allah SWT,semoga amal kebaikan kami mendapat imbalan yang setimpak dan menjadi amalan yang bermanfaat .Amien.
Karena berbagai keterbatasan kami menyadari karya tulis ini masih sangat banyak kekeliruan dan kekurangan ,maka demi kelengkapan dan kesempurnaan krya tulis ini,kami meminta dengan sangat himbauan serta saran,kritik yang membangun dari pembaca.dan sebelumnya kami mengucapkan banyak terima kasih.
Penulis
BAB I
PENDAHULUHAN
Ada beberapa tempat wisata yan ada di Indonesia,baik berupa pantai,pagunungan maupun lainnya.Dan beberapa tempat tarsebut kami dapat mmperoleh wawasan dan pengalaman.Dalam laporan ini kami akan menceritakan pengalaman wawasan dan pengalaman yang kami peroleh dari membaca buku maupu melakukan peneltian secara langsung.Kami berharap dalam penyusunan laporan dapat memberikan informasi yang berguna bagi pembaca.
A.Latar Belakang
Sebuah kegiatan sekolah yang diadakan dari tahun ke tahun yang wajib diikti oleh peserta didik,khususnya kelas VIII,karana banyaknya aktifitas yang dilakukan para peserta didik sehingga menjadikan para peserta didik merasa tidak jenuh.oleh karena itu program ini dilaksanakan.
B.Tujuan Dengan diadakan Study Tour oleh MTS Nurul Huda Dempet,maka Study Tour itu sendiri mempunyai beberpa tujuan diantaranya: 1.Untuk menikmati keindahan alam yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa. 2.Untuk menambah wawasan dan pengalaman para peserta didik . 3.Untuk menghilangkan rasa kejenuhanpara peserta didik. 4.Agar para peserta didik pariwisata-pariwisata bersejarah
C.Waktu dan Tempat Adapun Study Tour dilakukan dengan ketentuan
Waktun : 6-9April2010. Tempat : Kadilangu,Pekalongan,Jakarta(TMII,Monumen Nasional, Dunia fantasi,Pantai Ancol)
BAB II
A. Sunan Khalijaga (Khadilangu)
Ziarah yang pertama dilakukan di kadilangu,tepatnya di makam Kanjeng Sunan Kalijaga.Nama kecilnya adalah Raden Mas Said,putranya TumenggungWilatikta,Bupati Tubam.Yaitu dari ibunya yang bernama Dewi Nawangrum.Sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Sarah binti Maulana Ishak dan memperoleh tiga putra ,mereka adalah 1.Raden Umar Said, yang kemudian menjadi Sunan Muria , 2. Dewi Rakayah, 3.Dewi Shofiah.
Sunan Kalijaga adalah Wali yang Asli dari Jawa.Merupakan tokoh yang terkenal yang mempunyai Lima kelebihan utama : 1. berjiwa besar , 2. Toleran, 3. berpandangan tajam, 4. budayawan serta seniman, 5. pujangga, sekarang ini menjadi kanangan banyak masyarakt.makamnya yang terletak di desa kadilangu sebelah timur laut kota demak.
Setelah dimakam Sunan Kalijaga kita semua berdo’a kepada Allah SWT ,serta mando’akan beliau,agar selamat di perjalanan baik di dunia mauoun di akhirat.Ziarah tersebut di pimpin Drs.Muhammad dan selesai berziarah kita melanjutkan perjalanan ke pekalongan.sebelum menaiki bus kami membeli makanan dan minuman untuk persdiaan di dalam bus dan setelah itu kami melanjutkan parjalana ke Pekalongan .
B. Habib Ahmad Abdullah Bin Tholib Al Athos(pekalongan)
Sekitar jam 12.30 WIB.kami tiba di pekalongan kami melaksanakan sholat dhuhur dan asyar dengan di Jama’ Qosor.setelah kami selesai sholat kami meneruskan berziarah ke makamHabi Ahmad Abdullah bin Tholib Al Athos yang dipimpin oleh bapak Amin Suyitno da Do’a dipimpin oleh Bapak Drs.Muhammad .setelah kami berziara kami beristirahat untuk menghilangkan rasa pening,pusing dan ada \pula yang membeli makanan dan minuman di warung setelah kami istirahat ,kami nmeneruskan perjalanan di restaurant Markoni.
BAB IV
PENUTUP
Sebagai penutup karya tulis ini,kami akan menyimpulkan apa yang kami dapat,kami menyadari sepenuhnya masih trdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisan karya tulis ini ,karma keterbatasan pengetauan dan kemampuan kami mengharapkan kritik dan saran dari semua fihak untuk kebaikan di masa yang akan datang.
A. Kesimpulan
Dari karya tulis ini kami dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1.Dengan demikian kita harus berusaha agar pariwisata kita menjadi lebih baik dan meningkat
2. Kita tidak boleh melupakan sejarah bangsa dan kita harus melestarikan apa yang ada di Indonesia.
3.kita harus lebih mencintai terhadap bangsa sendiri.
B. Saran-Saran
Setelah menyusun mengungkapkan kesimpulan ,maka penyusun juga memberikan sedikit saran yang bersifat benbangun :
1. Dalam keinginan kita bersama untuk memajukan pariwisata,maka hars menyumbang dengan ikhlas ,apa yang kita mampu demi majunya bangsa.
2. Termasuk pada peningkatan pelestarian ke pariwisataan
DAFTAR PUSTAKA
-Adurroh Wahid,Dkk.1995.5 Rais’Am Nahdatul Ulamak ‘Yogyakarta:Pustaka pelajar
-Asna Wahyu,Abu Khalid MA.Penerbi Karya Ilmu.
BAB III
KEGIATAN YANG DILAKUKAN
A. Restoran Markoni
Restoran Markoni Subang adalah tempat kita berhenti untuk makan dan istarahat, semua siswa bergiliranuntuk mengambil makanan setelah makan semua siswa melaksanakan sholat magrib dan isya dengan jama’ta’khir di goshor, setelah sholat semua siswa melanjutkan perjalananan ke masjid At-Tin.
B. Masjid AT-TIN
Sekitar jam 02.00 WIB kami tiba di masjid AT-TIN. Waktu kami tiba di masjid AT-TIN sebagian dari kami ada yang tidur mandi dan jalan-jalan menikmati pemandangan sekitar masjid AT-TIN. Dan sekitar jam 04.30 WIB kami melaksanakan sholat subuh berjamaah. Setelah kami sholat subuh kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ).
C. Taman Mini Indonesia Indah ( TMII )
TMII ( Taman Mini Indonesia Indah ) didirikan pada tanggal 20 April 1975 TMII adalah salah satu objek yang banyak di kunjungi oleh wisata baik dari dalam negeri maupun luar negeri. TMII merupakan salah satu objek wisata yang dapat menbangkitkan rasa bangga dan mempertebal rasa kecintaan kita terhadap Tanah Air dan Bangsa.
Pendiri TMII yang semula bernama “ Proyek Miniatur Indonesia Indah “ adalah yayasan Harapan Kita yang di ketuai oleh Hj. Siti Hartinah istri Presiden RI yaitu Jenderal Soeharto yang dikenal dengan sebutan Ibu Tien Soeharto.
Yayasan Harapan kita yang berdiri pada tanggal 23 Agustus 1986 di bawah pimpinan Ibu Tien Soeharto di bantu oleh tokoh wanita seperti Nyonya Zahria Soetomo. Nyonya Sri Dewanti Mohan, dan lain-lain.
Ketika di buka secara resmi oleh presiden pada tanggal 20 April 1975. TMII memiliki 26 anjungan khas daerah, yang merupakan simbol dari rumah adapt 26 propinsi dan TMII memiliki 20 bangunan non anjungan. Timor Timur belum masuk wilayah Indonesia 20 bangunan non anjungan. Timur Timur belum masuk wilayah Indonesia karena masuk dalam kekuasaan Portugal. Baru pada tanggal 1980 di bangun anjungan Timor Timur di TMII.
Pada tanggal 20 April 1975 TMII yang dibangun dengan gotong royong dari segenap lapisan masyarakat yang di prakarsai oleh Yayasan Harapan Kita Yayasan Harapan Kita menyerahkan kepemilikan TMII kepada Pemerintah RI untuk mengelolanya, tapi pemerintah lewat Presiden Soeharto menyerahkan kembali TMII kepada Yayasan Harapan Kita untuk mengelolanya tempat wisata tersebut.
Selanjutnya kami turun dari bus untuk sarapan pagi dirumah adat Daerah Istimewa Yogyakarta., setelah kami sarapan pagi kami melanjutkan jalan-jalan disekitar TMII sambil foto-foto dan melihat pemandangan disekitar TMII. Setelah jalan-jalan kami melanjutkan ke Monumen Nasional ( MONAS ).
D. Monumen Nasional ( MONAS )
1. Latar Belakang
Monumen Nasional di bangun atas dasar gagasan Presiden yang Pertama yaitu Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1961 dan selesai pada tahun 1967 dengan biaya 7 milyar dan mengasilkan waktu 6 Tahun dengan arsiteknya Bapak Soedarsono dan penasehat kontruksi Prof Dr. Innn Rosseno tinggi Monas adalah 132 meter dihitung dari permukaan tanah sampai puncak emasnya.
Puncak emasnya yang terkenal dengan sebutan “ LIDAH API “ karena berbentuk seperti api, yang melambangkan semangat perjungan bangsa Indonesia.
Monumen Nasional di buka untuk umum pada tanggal 18 maret 1972 dan Gubernur DKI Jakarta Bapak ALI SADIKIN.
2. Bagian – Bagian Monas
Monument Nasional memiliki beberapa ruang di antaranya :
1. Ruang Kemerdekaan
Ruang kemerdekaan berbentuk Amphitheater yang terletak pada lawang tugu monas. Yang menyimpan 4 ( empat ) akributnya kemerdekaan yaitu : Bendera Pusaka, peta kepulauan Negara republic Indonesia, lambing Negara dan Pintu Gapwa.
2. Ruang Musium Sejarah
Ruang sejarah ini terletak 3 meter dibawah permukaan halaman tugu Monumen Nasional dengan ukuran 80 X 80 meter. Di dalam ruangan musium terletak di jendela ( Diorama ) yang mengabadikan peristiwa-peristiwa sejarah Zaman kehidupan nenek moyang Indonesia.
Ruang Musium ini terdapat diorama, antara lain :
1. Pertempuran jaga Raya pada tahun 1848-1849
2. Perang Banjar terjadi pada tahun ajaran 185-1905
3. Perang Aceh terjadi pada tahun 185-1904
4. Perang Imam Bonjol terjadi pada tahun 1821-1837
5. Perjuangan Kartini terjadi pada tahun 1879-1904
6. Perang Makasar
7. Tanam Paksa terjadi pada tahun 1830-1870
8. Tanam peserta didik terbentuk pada tanggal 3 juli 1922
9. Kebangkitan nasional terjadi pada tanggal 3 juli 1922
10. Kegiatan gereja protestan dalam menyatukan bangsa dan masih banyak lagi yang lainnya
3. Pelataran Puncak
Pelataran Puncak tugu monumen nasional terletak pada ketinggian 115 meter dan halaman monas yang luasnya IIXII meter ini dapat menampung 50 orang untuk melihat pemandangan disekitar monumen nasional..
4. Lidah api Kemerdekaan
Lidah api di pelataran puncak dari perunggu yang beratnya 14.5 ton tinggi 14 meter berdiameter 6 meter terdiri 77 bagian yang di satukan dan di lapisi oleh emas murni sebesar 50 Kg.
5. Pelataran Cawang
Tinggi pelataran cawang 17 meter dan tinggi ruang kemerdekaan 8 meter luas pelataran cawang yang berbentuk bujur sangkai berukuran 45 m X 45 m dan berat 3.5 ton yang merupakan pelestarian angka keramat proklamasi kemerdekaan RI 17-o8-1945.
E. Masjid Istiqlal
Setelah kami dari monumen nasional(MONAS).kami melanjutkan perjalanan ke masjid Istiqlal untuk menjalankan sholat dhuhur dan asyar dengan di jamak Takdim dan Qosor setelah sholat kami makan siang dan istirahat sejenak sambil jala-jalan di sekitar masjid Istiqlal
F. Dunia Fantasi
Pada sekitar jam 13.30 WIB kami tiba di dunia fantasi(DUFAN).setelah kami turun dai bus kami.di sana kami menikmati berbagai macam permainan yang ada di Dufan diantaranya ’Jets Coster,Tornado,Kora-kora,Glanggang Samudera dan masih banyak lagi.
Selain kami menikmati permainan yang ada kami menyempatkan untuk berfoto-foto dengan badot dan lain-lain sangat senang menikmati wahana di dufan. Setelah capek dan pusing pada jam 17.00 kami kluar dari Dufan menuju lokasi pantai ancol yang tidak jauh lokasinya yang di tempuh dengan jalan kaki.
G. Pantai Ancol.
Setelah kami dari Dufan kami makan di rumah makan laut biru yang telah disediakan oleh biro perjalanan setelah kami makan kami melihat dan menikmati keindahan pantai Ancol dan kita berfoto-foto bersama teman-teman dipantai tempatnya sangat sejuk indah dan menyenangkan dan bersantai melihat keindahan pantai senja hari dan selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke pusat oleh-oleh.
H. Pusat Oleh-Oleh
Setelah kami dari pantai Ancol kami melanjutkan perjalanan menuju pusat oleh-oleh yaitu khususnya di Cikampek, disana kami membeli makanan khas Jakarta setelah kami membeli makanan kami kembali naik bus untuk melanjutkan istirahat dan melanjutkan perjlanan kemesjid Pemalang.
I. Masjid Pemalang
Setelah semalaman kami tidur setelah kecapean di dalam bus untuk melanjutkan perjalanan pulang akhirnya waktu tiba sholat subuh dan kami pun berhenti di masjid Pemalang untuk berjamah setelah selesai kami kembali ke bus untuk melnjutkan perjalanan pulang .
Read more
Makalah tentang hukum
Pemeriksaan perkara pidana di Indonesia secara normatif (substantif) menunjuk kepada peraturan induknya yang termaktub dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), beserta aturan lainnya yang memiliki keterkaitan dengan ketentuan tersebut. Tahapan pemeriksaan menurut KUHAP dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Tahap Penyelidikan
2. Tahap Penyidikan
3. Tahap Penuntutan
4. Tahap Pemeriksaan di Sidang Pengadilan
5. Upaya Hukum Biasa dan Luar Biasa
6. Pelaksanaan Putusan Pengadilan (Eksekusi)
Tahapan pemeriksaan ini diatur secara rinci dalam KUHAP yang pada prinsipnya memberikan kewenangan tertentu kepada lembaga administratif-birokratis untuk melaksanakan sistem, mekanisme aturan, serta menjamin hak tersangka dalam proses pemeriksaan.
Pada kondisi demikian, peradilan pidana memiliki kekuasaan luar biasa besar, mulai dari Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Lembaga Pemasyarakatan. Persoalannya adalah, seberapa jauh tugas pemeriksaan perkara dilaksanakan seperti harapan banyak pihak ditujukan terhadap bekerjanya aparatur penegak hukum, mampu atau tidak memberikan perlindungan terhadap masyarakat, karena kecenderungan yang selama ini muncul adalah bahwa peradilan pidana lebih bersifat formal administratif/birokratis. Hal ini muncul sebagai konsekuensi dari semakin superiornya peradilan dan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan fungsi administrasi peradilan untuk menanggulangi kejahatan.
Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam KUHAP maka terdapat beberapa pihak yang terlibat dalam proses pemeriksaan perkara pidana, yakni :
1. Tersangka/Terdakwa
2. Penyidik dan Penyelidik
3. Jaksa Penuntut Umum
4. Penasehat Hukum/Advokat
5. Hakim
1. Tahap Penyelidikan
2. Tahap Penyidikan
3. Tahap Penuntutan
4. Tahap Pemeriksaan di Sidang Pengadilan
5. Upaya Hukum Biasa dan Luar Biasa
6. Pelaksanaan Putusan Pengadilan (Eksekusi)
Tahapan pemeriksaan ini diatur secara rinci dalam KUHAP yang pada prinsipnya memberikan kewenangan tertentu kepada lembaga administratif-birokratis untuk melaksanakan sistem, mekanisme aturan, serta menjamin hak tersangka dalam proses pemeriksaan.
Pada kondisi demikian, peradilan pidana memiliki kekuasaan luar biasa besar, mulai dari Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Lembaga Pemasyarakatan. Persoalannya adalah, seberapa jauh tugas pemeriksaan perkara dilaksanakan seperti harapan banyak pihak ditujukan terhadap bekerjanya aparatur penegak hukum, mampu atau tidak memberikan perlindungan terhadap masyarakat, karena kecenderungan yang selama ini muncul adalah bahwa peradilan pidana lebih bersifat formal administratif/birokratis. Hal ini muncul sebagai konsekuensi dari semakin superiornya peradilan dan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan fungsi administrasi peradilan untuk menanggulangi kejahatan.
Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam KUHAP maka terdapat beberapa pihak yang terlibat dalam proses pemeriksaan perkara pidana, yakni :
1. Tersangka/Terdakwa
2. Penyidik dan Penyelidik
3. Jaksa Penuntut Umum
4. Penasehat Hukum/Advokat
5. Hakim
makalah candi prambanan
Candi Prambanan merupakan kelompok candi yang dibangun oleh raja-raja Dinasti Sanjaya pada abad IX. Ditemukannya tulisan nama Pikatan pada candi menimbulkan pendapat bahwa candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung berdasarkan prasasti berangka 856 M “Prasasti Siwargrarha” sebagai manifest politik untuk meneguhkan kedudukannya sebagai raja yang besar.Prasasti Siwargrarha tahun 856 M yang dikeluarkan oleh Rakai Pikatan tidak diketahui asalnya, kini disimpan di Museum Nasional Jakarta.
Prasasti ini mulai menarik perhatian setelah J.G. De Casparis berhasil menguraikan dan membahasnya. Menurut Casparis ada 3 hal penting dalam prasati tersebut, yaitu: Bahasanya merupakan contoh tertua prasasti yang berangka tahun yang ditulis dalam puisi Jawa kuna; Isinya memuat bahan-bahan atau peristiwa-peristiwa sejarah yang sangat penting dari pertengahan abas ke IX M; Didalamnya terdapat uraian yang rinci tentang suatu “gugusan candi”, sesuatu yang unik dalam epigrafi Jawa kuna.Dari uraian diatas yang menarik adalah peristiwa sejarah dan uraian tentang pembangunan gugusan candi. Peristiwa sejarah yang dimaksud adalah peperangan antara Balaputeradewa dari keluarga Sailendra melawan Rakai Pikatan dari keluarga Sanjaya. Balaputeradewa kalah dan melarikan diri ke Sumatera. Konsolidasi keluarga raja Rakai Pikatan itu kemudian menjadi permulaan dari masa baru yang perlu diresmikan dengan pembangunan suatu gugusan candi besar.
Gambaran tentang gugusan candi seperti yang disebut dalam prasasti Siwargrarha dapat dibandingkan dengan kompleks candi Prambanan, gugusan candi yang dibangun pusatnya dipagari tembok keliling dan dikelilingi oleh deretan candi perwara yang disusun bersap hanya terdapat pada candi Prambanan.Disebutkan pula candi Perwara sama dalam bentuk dan ukuran.
Hal lain yang menarik adalah 2 buah candi Apit, masing-masing didekat pintu masuk utara dan selatan.Keterangan mengenai gugusan candi yang terletak didekat sungai mengingatkan pada gugusan candi Prambanan dengan sungai Opak di sebelah baratnya dan jika dari jarak antara sungai Opak dan gugusan candi Prambanan dan adanya pembelokan aliran sungai kemungkinan pembelokan tersebut terjadi diantara desa Klurak dan Bogem. Dengan demikian, tampaknya uraian yang terdapat dalam prasasti Siwargrarha tentang gugusan candi tersebut lebih cocok dengan keadaan candi Prambanan.
Terjadinya perpindahan pusat kerajaan Mataram ke Jawa Timur berakibat tidak terawatnya candi-candi di daerah Prambanan, kondisi ini semakin parah dengan terjadinya gempa bumi dan beberapa kali meletusnya Gunung Merapi yang menjadikan candi Prambanan runtuh dan meninggalkan puing-puing batu yang berserakan. Candi Prambanan dikenal kembali saat seorang Belanda bernama C.A.Lons mengunjungi Jawa pada tahun 1733 dan melaporkan tentang adanya reruntuhan candi yang ditumbuhi semak belukar.
Usaha pertama kali untuk menyelamatkan candi Prambanan dilakukan oleh Ijzerman pada tahun 1885 dengan membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan batu. Pada tahun 1902 dimulai pekerjaan pembinaan yang dipimpin oleh Van Erp untuk candi Siwa, candi Wisnu dan candi Brahma. Perhatian terhadap candi Prambanan terus berkembang. Pada tahun 1933 berhasil disusun percobaan candi Brahma dan Wisnu. Setelah mengalami berbagai hambatan pemugaran diselesaikan oleh bangsa Indonesia, tanggal 23 Desember 1953 candi Siwa selesai dipugar dan secara resmi dinyatakan selasai oleh Presiden Dr. Ir. Sukarno.
Pemugaran candi di wilayah Prambanan terus dilaksanakan, diantaranya yaitu pemugaran candi Brahma dan candi Wisnu. Pemugaran candi Brahma dimulai pada tahun 1977 dan telah selesai dan diresmikan oleh Prof Dr. Haryati Soebandio tanggal 23 Maret 1987. Candi wisnu mulai dipugar pada tahun 1982 selesai dan diresmikan oleh Presiden Soeharto tanggal 27 April 1991. Kegiatan pemugaran berikutnya dilakukan terhadap 3 buah candi yang berada di depan candi Siwa, Wisnu dan Brahma besarta 4 candi kelir dan 4 candi disudut.
untuk kelanjutannya klik Disini
Makalah KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA
Istilah Kejaksaan sebenarnya sudah ada sejak lama di Indonesia. Pada zaman kerajaan Hindu-Jawa di Jawa Timur, yaitu pada masa Kerajaan Majapahit, istilah dhyaksa, adhyaksa, dan dharmadhyaksa sudah mengacu pada posisi dan jabatan tertentu di kerajaan. Istilah-istilah ini berasal dari bahasa kuno, yakni dari kata-kata yang sama dalam Bahasa Sansekerta.
Seorang peneliti Belanda, W.F. Stutterheim mengatakan bahwa dhyaksa adalah pejabat negara di zaman Kerajaan Majapahit, tepatnya di saat Prabu Hayam Wuruk tengah berkuasa (1350-1389 M). Dhyaksa adalah hakim yang diberi tugas untuk menangani masalah peradilan dalam sidang pengadilan. Para dhyaksa ini dipimpin oleh seorang adhyaksa, yakni hakim tertinggi yang memimpin dan mengawasi para dhyaksa tadi.
Kesimpulan ini didukung peneliti lainnya yakni H.H. Juynboll, yang mengatakan bahwa adhyaksa adalah pengawas (opzichter) atau hakim tertinggi (oppenrrechter). Krom dan Van Vollenhoven, juga seorang peneliti Belanda, bahkan menyebut bahwa patih terkenal dari Majapahit yakni Gajah Mada, juga adalah seorang adhyaksa.
Pada masa pendudukan Belanda, badan yang ada relevansinya dengan jaksa dan Kejaksaan antara lain adalah Openbaar Ministerie. Lembaga ini yang menitahkan pegawai-pegawainya berperan sebagai Magistraat dan Officier van Justitie di dalam sidang Landraad (Pengadilan Negeri), Jurisdictie Geschillen (Pengadilan Justisi ) dan Hooggerechtshof (Mahkamah Agung ) dibawah perintah langsung dari Residen / Asisten Residen.
Read more
Seorang peneliti Belanda, W.F. Stutterheim mengatakan bahwa dhyaksa adalah pejabat negara di zaman Kerajaan Majapahit, tepatnya di saat Prabu Hayam Wuruk tengah berkuasa (1350-1389 M). Dhyaksa adalah hakim yang diberi tugas untuk menangani masalah peradilan dalam sidang pengadilan. Para dhyaksa ini dipimpin oleh seorang adhyaksa, yakni hakim tertinggi yang memimpin dan mengawasi para dhyaksa tadi.
Kesimpulan ini didukung peneliti lainnya yakni H.H. Juynboll, yang mengatakan bahwa adhyaksa adalah pengawas (opzichter) atau hakim tertinggi (oppenrrechter). Krom dan Van Vollenhoven, juga seorang peneliti Belanda, bahkan menyebut bahwa patih terkenal dari Majapahit yakni Gajah Mada, juga adalah seorang adhyaksa.
Pada masa pendudukan Belanda, badan yang ada relevansinya dengan jaksa dan Kejaksaan antara lain adalah Openbaar Ministerie. Lembaga ini yang menitahkan pegawai-pegawainya berperan sebagai Magistraat dan Officier van Justitie di dalam sidang Landraad (Pengadilan Negeri), Jurisdictie Geschillen (Pengadilan Justisi ) dan Hooggerechtshof (Mahkamah Agung ) dibawah perintah langsung dari Residen / Asisten Residen.
Read more
MAKALAH SOSIAL PENDIDIKAN TENTANG AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT
PERINGATAN !
artikel ini bisa di copy tapi tidak bisa di paste agar bisa di kopas klik Disini
MAKALAH SOSIAL PENDIDIKAN TENTANG AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan bermasyarakat agama sangat berperan penting dalam masyarakat, untuk mengatasi prsoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris karena adanya keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Agama, golongan masyarakat, dan fungsi agama?
2. Bagaimana peran agama dalam kehidupan?
3. Apa pengaruh agama dalam kehidupan?
4. Bagaimana peran pemimpin dalam pembangunan?
BAB II
PEMBAHASAN
AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT
A. Pengertian Agama, Golongan Masyarakat, dan Fungsi Agama
Menurut Hendropuspito, agama adalah suatu jenis system social yang dibuat oleh penganut-penganutnya yang berproses pada kekuatan-kekuatan non-empiris yang dipercayai dan didayagunakan untuk mencapai keselamatan bagi mereka dan masyarakat luas umumnya. Dalam kamus sosiologi, pengertian agama ada tiga macam, yaitu (1) kepercayaan pada hal-hal yang spiritual; (2) perangkat kepercayaan dan praktik-praktik spiritual yang dianggap sebagai tujuan tersendiri; (3) ideology mengenai hal-hal yang bersifat supranatural. Sementara itu, Thomas F.O’Dea mengatakan bahwa agama adalah pendayagunaan sarana-sarana supra-empiris untuk maksud-maksud non-empiris atau supra-empiris.
E..B. Tylor dalam buku perintisnya, primitive culture, yang diterbitkan pada tahun 1871. Dia mendefinisikan agama sebagai “ kepercayaan terhadap adanya wujud-wujud spiritual”, definisi dari tylor itu dikritik lebih jauh karena tampaknya definisi itu berimplikasi bahwa sasaran sikap keagamaan selalu berupa wujud personal, padahal bukti antropologik yang semakin banyak jumlahnya menunjukan bahwa wujud spiritual pun sering dipahami sebagai kekuatan impersonal.
Selanjutnya, golongan masyarakat dapat diartikan sebagai penggolongan anggota-anggota masyarakat ke dalam suatu kelompok yang mempunyai karakteristik yang sama atau sejenis. Dalam kamus sosiologi dinyatakan sebagai kategori orang-orang tertentu, dalam suatu masyarakat yang didasarkan pada cirri-ciri mental tertentu.
Berdasarkan definisi di atas, penggolongan masyarakat dapat dibuat berdasarkan cirri yang sama. Misalnya, (1) penggolongan berdasarkan jenis kelamin adalah pria dan wanita; (2) penggolongan berdasarkan usia adalah tua dan muda; (3) penggolongan berdasarkan pendidikan adalah cendekia dan buta huruf; (4) penggolongan berdasarkan pekerjaan adalah petani, nelayan, golongan buruh, pengrajin, pegawai negeri, eksekutif, dan lain-lain. Menurut Hendropuspito, meskipun tidak dapat dibuat berdasarkan kedudukan social yang sama, seperti pada lapisan social, penggolongan ini pada dasarnya untuk kepentingan pengamat social alam penelitian-penelitian terhadap masyarakat.
Adapun yang dimaksud dengan fungsi agama adalah peranan agama dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris karena adanya keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian.
Thomas F. O’Dea menuliskan enam fungsi agama, yaitu (1) sebagai pendukung, pelipur lara, dan perekonsiliasi, (2) sarana hubungan transcendental melalui pemujaan dan pacara ibadat, (3) penguat norma-norma dan nilai-nilai yang sudah ada, (4) pengkoreksi fungsi yang ada, (5) pemberi identitas diri, dan (6) pendewasaan agama. Fungsi agama yang dijelaskan hendrapuspito lebih ringkas lagi, tetapi intinya hampir sama. Menurutnya, fungsi agama itu adalah edukatif, penyelamatan, pengawasan social, memupuk persaudaraan dan transformatif.
B. Agama dan Kehidupan
Kehidupan beragama pada dasarnya merupakan kepercayaan terhadap keyakinan adanya kekuatan ghaib, luar biasa atau supranatural yang berpengaruh terhadap kehidupan individu dan masyarakat, bahkan terhadap segala gejala alam. Kepercayaan beragama yang bertolak dari kekuatan ghaib ini tampak aneh, tidak alamiah dan tidak rasional dalam pandangan individu dan masyarakat modern yang terlalu dipengaruhi oleh pandangan bahwa sesuatu diyakini kalau konkret, rasional, alamiah atau terbukti secara empiric dan ilmiah.
Ketergantungan masyarakat dan individu pada keuatan ghaib ditemukan dari zaman purba sampai ke zaman moden ini, kepercayaan itu diyakini kebenarannya sehingga ia menjadi kepercayaan keagamaan atau kepercayaan religius. Kepercayaan terhadap sucinya sesuatu itu dinamakan dalam antropologi dan sosiologi agama dengan mempercayai sifat sacral pada sesuatu itu, mempercayai sesuatu sebagai yang suci atau sacral juga cirri khas kehidupan beragama, adanya aturan kehidupan yang dipercayai berasal dari Tuhan juga termasuk kehidupan beragama. Semuanya ini menunjukan bahwa kehidupan beragama aneh tapi nyata, dan merupakan gejala universal, ditemukan di mana dan kapan pun dalam kehidupan individu dan masyarakat.
Beragama sebagai gejala universal masyarakat manusia juga diakui oleh Begrson (1859-1941), pemikir prancis. Ia menulis bahwa kita menemukan masyarakat manusia tanpa sains, seni dan filsafat, tetapi tidak pernah ada masyarakat tanpa agama (El-Ehwani dalam sharif, 1963:556).
Di samping universal, kehidupan beragama di zaman modern ini sudah demikian kompleks. Banyak macam agama yang dianut mamusia dewasa ini. Aliran kepercayaan,aliran kebatinan, aliran pemujaan atau yang dikenal dalam ilmu social dengan istilah occultisme juga banyak ditemukan di kalangan masyarakat modern. Kehidupan beragama dewasa ini ada yang dijadikan tempat penyejuk jiwa dan pelarian dari hiruk pikuk ekonomi dan social politik sehari-hari, ada pula yang dijadikan sumber motivasi untuk mencapai kehidupan ekonomi dan social politik, di samping itu kehidupan beragama punya pengaruh terhadap aspek kehidupan yang lain. Anne Marie Malefijt mengungkapkan bahwa agama adalah tipe the most important aspects of culture yang dipelajari oleh ahli antropologi dan ilmuwan social lainnya. Aspek kehidupan beragama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi secara signifikan dengan instutusi budaya yang lain. Ekspresi religius ditemukan dalam budaya material, perilaku manusia,nilai, moral,system keluarga, ekonomi, hokum, politik, pengobatan,sains, teknologi,seni, pemberontakan, perang, dll. Dari apa yang dikemukakan oleh Malefitj adalah bahwa agama mewarnai dan membentuk suatu budaya.
Agama atau minimal pendekatan keagamaan adalah cara yang efektif dalam membentuk kepribadian dan kebudayaan, baik beragama sebagai system social budaya atau sebagai subsistem yang universal sebagai tipe penampilan serta penghayatannya dikalangan kelompok-kelompok masyarakat, dari yang sekedar untuk mencapai kesejukan sampai kepada tidak merasa bersalah tidak melakukan tindakan terror terhadap masyarakat yang tidak berdosa, menjadikannya sangat penting dipahami oleh setiap individu dan lembaga yang berurusan dengan masyarakat.
Terdapat perbedaan kehidupan beragama di kalangan masyarakat primitive dan masyarakat modern. Dalam masyarakat primitive, kehidupan beragama tidak dapat dipisahkan dari aspek kehidupan lain; beragama dan kegiatan sehari-hari menyatu. Beragama merupakan sistam social budaya. Dalam masyarakat modern, kehidupan beragama hanya salah satu aspek dari kehidupan beragama hanya salah satu aspek dari kehidupan sehari-hari.
Geertz mengungkap betapa kompleks dan mendalamnya kehidupan beragama. Agama tampak tumpang tindih dengan kebudayaan (Geertz 1992).Kemudian kompleksitas dan luasnya ruang lingkup ajaran agama dapat dilihat dalam ajaran islam. Sebagai agama wahyu yang terakhir, islam adalah ajaran yang komprehensif dan terpadu, yaitu mencakup bidang ibadat, perkawinan, waris, ekonomi, politik, hubungan internasional, dan seterusnya.
Namun dalam fenomena social budaya, dalam kehidupan umat islam di zaman modern ini, kehidupan beragama menjadi menciut dalam aspek kecil dan kehidupan sehari-hari, yaitu yang berhubungan dengan yang ghaib dan ritual saja. Kehidupan beragama umat islam dewasa ini menjadi subsistem social budayanya. Fenomena penciutan beragama ini karena pengaruh budaya modernism dan sekularisme. Walaupun pengaruh modernism dan sekularisme demikian kuat, ia juga menimbulkan gerakan dan aliran keagamaan dalam rangka melawan dominasi modernism dan sekularisme tersebut, seperti aliran skripturalis dan gerakan terror. Maraknya aliran kebatinan, occultism, aliran ekslusif lainnya menjadikan fenomena kehidupan beragama makin kompleks. Semua ekslusivitas dan kompleksitas kehidupan beragama ini menjadikannya menarik untuk diteliti secara antropologis. Kajian antropologi terhadap berbagai aliran ekslusif juga akan menjelaskan akar-akar budaya dari objek yang dikaji, secara mencoba memahami gejala tesebut dalam konteks budaya yang bersangkutan.
C. Pengaruh Agama Terhadap Golongan Masyarakat
Untuk mengetahui pengaruh agama terhadap masyarakat, ada tiga aspek yang perlu dipelajari, yaitu kebudayaan, system social, dan kepribadian ketiga aspek itu merupakan fenomena social yang prilaku manusia. Maka timbul pertanyaan : sejauh mana fungsi lembaga agama dalam memelihara sistem, apakah lembaga agama terhadap kebudayaan sebagai suatu system? Dan sejauh mana fungsi agama dalam mempertahankan keseimbangan pribadi.
Berkaitan dengan hal ini, Nottingham menjelaskan secara umum tentang hubungan agama dengan masyarakat yang menurutnya, terbagi tipe-tipe. Tampaknya pembagia ini mengikutui konsep August Comte tentang proses tahapan pwembentukan masyarakat. Adapun tipe-tipe yang di maksud Nottingham itu adalah sebagai berikut.
1. Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nilai sacral. Tipe masyarakat ini kecil, terisolasi dan terbelakang. Anggota masyarakatnya menganut agama yang sama. Tidak ada lembaga lain yang relative berkembang selain lembaga keluarga, agama menjadi focus utama bagi pengintegrasian dan persatuan masyarakat dari masyatakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, kemungkinan agama memasukan pengaruh yang sacral ke dalam system nilai-nilai masyarakat sangat mutlak.
2. Masyarakat praindustri yang sedang berkembang. Keadaan masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi yang lebih tinggi daripada tipe pertama. Agama memberikan arti dan ikatan kepada system nilai dalam tipe masyarakat ini. Tetapi, pada saat yang sama, lingkungan yang sacral dan yang sekuler sedikit-banyak masih dapat dibedakan. Misalnya, pada fase-fase kehidupan social masih diisi oleh upacara-upacara keagamaan, tetapi pada sisi kehidupan lain, pada aktivitas sehari-hari, agama kurang mendukung. Agama hanya mendukung masalah adat-istiadat saja.Nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat menempatkan focus utamanya pada pengintegrasian tingkah laku perseorangan, dan pembentukan citra pribadi mempunyai konsekuensi penting bagi agama.Salah satu akibatnya,anggota masyarakat semakin terbiasa dengan penggunaan metode empiris yang berdasarkan penalaran dan efesiensi dalam menanggapi masalah- masalah kemanusiaan sehingga lingkungan yang bersifat sekuler semakin meluas.
Memiliki karakter-karakter yang dikemukakan Notting ham tersebut,tampaknya pengaruh agama terhadap golongan masyarakat pun, jika dilihat dari karakter masing-masing golongan pekerjaan,tidak akan berbeda jauh dengan pengaruh agama terhadap masyarakat yang digambarkan Notting ham secara umum,karna system masyarakat akan mencerminkan budaya masyarakatnya.
1. Golongan petani.Pada umumnya,golongn petani termasuk masyarakat yang terbelakang.Lokasinya berada didaerah terisolasi system masyarakatnya masih sederhana,lembaga-lembaga sosialnyapun belum banyak berkembang.Mata pencaharian utamanya bergantung pada alam yang tidak bisa dipercepat,diperlamba,atau dperhitungkan secara cermat sesuai dengan keinginan petani.Faktor subur tidaknya tanah,dan sebagainya merupakan faktor-faktor yang brada di luar jangkauan petani oleh sebab itu,mereka mencari kekuatan dan kemampuan di luar dirinya yang dipandang mampu dandapat mengatasi semua persoalan yang telah atau akan menimpa dirinya.Maka,diadakanlah upacara-upacara atau ritus-ritus yang dianggap sebagai tolak bala atau menghormati dewa.Menyediakan sesajen bagi Dewi Sri,yang dipercayai sebagai pelindung sawah dan ladang.
Dengan pengamatan selintas pengaruh agama tehadap golongan petani cukup besar.Jiwa keagamaan mereka relaitf lebih besar karena kedekatannya dengan alam.
2. Golongan nelayan.Karakter pekerja golongan nelayan hampir sama dengan karakter golongan petani.Mata pencahariannya berganyung pada keramahan alam.Jika musimnya sedang bagus,tidak ada badai,boleh jadi tangkapan ikannya melimpah.Biasanya pada waktu-waktu tertentu ada semacam upacara untuk menghormati penguasa laut,yang pada masyarakat Indonesia dikenal sebagai Nyi Roro Kidul.Berdasarkan fakta tersebut,pengaruh agama pada kehidupan nelayan dapat dikatakan signifikan.
3. Golongan pengrajin dan pedagang kecil.Golongan pengrajin dan pedagang kecil hidup dalam situasi yang berbeda dengan golongan petani.Kehidupan golongan ini tidak terlalu berkutat dengan situasi alam dan tidak terlalu bergantung pada alam.Hidup mereka didasarkan atas landasan ekonomi yang memerlukan perhitungan rasional.Mereka tidak menyadarkan diri pada keramahan alam yang tidak bisa dipastikan,tetapi lebih mempercayai perencanaan yang teliti danpengarahan yang pasti.
Menurut Weber yang mempelajari sejarah agama-agama dengan cara yang berlaku pada zamannya,yaitu agma Kristen,Yahudi,Islam,Hindu,Budha,dan konfusianisme,Taoisme golongan pengrajin dan pedagang kecil suka menerima pandangan hidup yang mencakup etika pembalasan. Mereka menaati kaidah moral dan pola sopan santun dan percaya bahwa pekerjaan yang baik dilakukan dengan tekun dan teliti akan membawa balas jasa yang setimpal.
4. Golongan pedagang besar.Kategori yang paling menonjol dari golongan pedagang besar adalah memiliki sikapnya yang lain terhadap agama.Pada umumnya kelompok ini mempunyai jiwa yang jauh dari gagasan tentang imbalan jasa (compensation) moral,seperti yang dimiliki golongan tingkat menengah bawah.mereka lebih berorientasi pada kehidupan nyata (mundane) dan cenderung menutup agama profetis dan etis. Perasaan keagamaannya lebih bersifat fungsional, kemampuan yang mereka miliki terletk pada kekuatan ekonominya.
5. Golongan kariyawan.Weber menyebut golongan karyawan sebagai kaum birokrat. Hal ini dilihat dari pembagian fungsi-fungsi kerja yang ada sudah jelas dan adanya penyelesaian suatu masalah kemanusiaan berdasarkan penalaran dan efisiensi.
6. Golongan buruh. Yang dimaksud dengan golongan buruh adalah mereka yang bekerja dalam industri-industri atau perusahan-perusahaan modern. Golongan buruh termasuk kelas proletar yang tidak diikutsertakan dalam kehidupan masyarakat,disingkirkan dari system social yang berlaju.Kelas ini merupakan golongan yang dijadikan sapi perahan untuk meraup keuntungan yang sangat besar oleh kaum borjuis.Agama yang dibutuhkan oleh golongan buruh tampaknya agama yang bisa membebaskan dirinya dari penghisapan tenega kerja segara berlebihan.
7. Golongan tua-muda. Meskipun secara social penggolongan tua muda ini ada, tetapi susah ditentukan batasannya secara praktis. Berdasarkan pengamatan sepintas tersebut, dapat dikatakan bahwa agama pada golongan tua lebih kental dibandingkan dengan golongan muda. Nanun, bila asumsi ini diterapkan pada zaman sekarang, ternyata mengalami kesulitan juga, karena tidak jarang banyak orang yang berumur 40 ke atas berlaku seperti anak muda.
8. Golongan pria-wanita. Secara psikologis, watak umum pria dan wanita berbeda. Dalam menghadapi suatu keadaan, watak pria lebih dominan menggunakan pertimbangan rasional, sedangkan wanita lebih rasa / emosinya.
Jika dlihat secara keseluruhan, tujuan beragama seseorang itu rata-rata untuk nencari ketenangan bathin.Dalam masalah penghayatan keagamaan, tampaknya golongan wanita lebih dominan,karena faktor pembawaan mereka umumnya cenderung emosional.
D. Peranan Pemimpin Dalam Pembangunan
Tujuan pembangunan pada mulanya sederhana saja, yakni memberantas kemiskinan dan menjembatani kesenjangan. Ketika decade pembangunan dicanangkan oleh perserikatan bangsa-bangsa (PBB), segera setelah perang dunia kedua, masalah yang dihadapi saat itu adalah kehancuran ekonomi dan prasarana dari Negara-negara yang kalah atau menjadi korban peperangan. Oleh karena itu,perhatian ulama pembangunan ditekankan pada rehabilitasi dan rekonstruksi sarana-sarana ekonomi.
Membahas peranan para pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan memang sangat menarik, bukan saja lantaran para pemimpin agama merupakan salah satu komponen itu sendiri, melainkan juga pada umumnya pembangunan diorientasikan pada upaya-upaya manusia yang bersifat utuh dan serasi antara kemajuaan aspek lahiriah dan kepuasan aspek bathiniah. Corak pembangunan seperti ini didasarkan pemikiran bahwa keberadaan manusia yang akan dibangun, pada dasarnya, terdiri atas unsure jasmaniah dan unsure ruhaniah. Kedua unsure ini tentu harus terisi dalam proses pembangunan.
Pentingnya keterlibatan para pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan ini adalah dalam aspek pembangunan unsure ruhaniahnya, para pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan tidak bersifat suplementer (pelengkap penderita), tetapi benar-benar menjadi salah satu komponen inti dalam seluruh proses pembangunan. Dalam pelaksanaanya, bahkan para pemimpin agama dapat berperan lebih luas; bukan hanya terbatas pada pembangunan ruhani masyarakat, tetapi juga dapat berperan sebagai motivator, pembimbing, dan pemberi landasan etis dan moral, serta menjadi mediator dalam seluruh aspek kegiatan pembangunan.
1. Pemimpin Agama Sebagai Motivator
Tidak dapat di sangkal bahwa peran para pemimpin agama sebagai motivator pembangunan sudah banyak di akui dan terbukti di masyarakat.
Terlibatnya para pemimpin agama dalam kancah kegiatan pembangunan ini, terutama di dorong oleh kesadaran untk ikut secara aktif memikirkan permasalahan-permasalahan duniawi yang sangat kompleks yang dihadapi umat manusia.Begitu kompleksnya permasalahan yang dihadapi manusia di dunia ini sampai pemerintahan sekuler tidak dapat lagi memecahkannya tanpa bantuan dari pihak pemimpin agama, seperti pemberantasan kemiskinan, mengatasu kesenjangan, mencegah kerusakan lingkungan, dan mencegah terjadinya pelanggaran terhadap hak asasi manusia.Tentu para pemimpin agama tidak dapat diam berpangku tangan dengan mengatakan bahwa agama tidak mengurusi permasalahan umat yang bersifat fisik, Agama hanya mengurusi aspek spiritual damn kehidupan manusia, pemikiran seperti ini akan mengakibatkan agama-agama di dunia ini dijauhioleh umat manusia.
Selain itu, para pemimpin agama juga diharapkan mampu merangsang masyarakat agar berani melakukan perubahan-perubahan kehidupan ke arah yang lebih maju dan sejahtera. Para pemimpin agama dapat memberikan semangat kepada masyarakat untuk selalu giat berusaha, jangan sekali-kali untuk bersifat fatalis. Para pemimpin agama seyogianya memberikan wawasan kepada masyarakat bahwa takdir hanyalah batas akhir dari upaya manusia dalam meraih prestasi.Dengan demikian para pemimpin agama telah mampu membuktikan kemampuannya untuk berbicara secara rasional dan tetap membangkitkan gairah serta aksi masyarakat dalam meraih sesuatu yang dicita-citakannya.
2. Pemimpin Agama Sebagai Pembimbing Moral
Peran kedua yang dimainkan para pemimpin agama di masyarakat dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan adalah peran yang berkaitan dengan upaya-upaya menanamkan prinsip-prinsip etik dan moral masyarakat. Dalam kaitannya, kegiatan pembangunan umumnya selalu menuntut peran aktif para pemimpin agama dalam meletakkan landasan moral, etis, dan spiritual serta peningkatan pengalaman agama, baikdalam kehiduan pribadi maupun social.
Berangkat dari landasan etis dan moral inilah, kegiatan pembangunan lalu diarahkan pada upaya pemulihan harkat dan martabat manusia, harga diri dan kehormatan individu, serta pengakuan atas kedaulatan seseorang atau kelompok untuk mengembangkan diri sesuai dengan keyakinan dan jati diri serta bisikan nuraninya. Di sinilah kemudian nilai-nilai religius yang ditanamkan para pemimpin agama memainkan peranan penting dalam kegiatan pembangunan.
Tuntutan dan patokan yang tertuang dalam kitab suci, teladan para nabi, dan hukum-hukum agama yang merupakan elaborasi dari sabda Tuhan menurut hasil pemikiran para pemuka, pemimpin dan pemikir agama pada masa lalu, mereka jadikan bahan untk membimbing arah kegiatan pembangunan secara menyeluruh.
3. Pemimpin Agama Sebagai Mediator
Peran lain para pemimpin agama yang tidak kalah pentingnya, juga dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan di masyarakat adalah sebagai wakil masyarakat dan seagai pengantar dalam menjalin kerja sama yang harmonis di antara banyak pihak dalam rangka melindungi kepentingan-kepentingannya di masyarakat dan lembaga-lembaga keagamaan yang dipimpinnya.
Untuk membela kepentingan-kepentingan ini, para pemimpin agama biasanya memposisikan diri sebagai mediator di antara beberapa pihak di masyarakat, seperti antara masyarakat dengan elite pengusaha dan antara masyarakat miskin dengan kelompok orang-orang kaya. Melalui pemimpin agama, para elite pengusaha dapat memahami apa yang diinginkan masyarakat, dan sebaliknya elite pengusaha dapat mensosialisasikan program-programnya kepada masyarakat luas melalui bantuan para pemimpin agama.
Munculnya kerja sama antara para pemimpin agama di satu pihak dengn kalangan kaya dan penguasa di pihak lain merupakan fenomena social yang umum terjadi di kalangan umat beragama. Dari sudut formal keagamaan, kerja sama para pemimpin keagamaan dengan kalangan hartawan dan dan penguasa ini memang tidak dapat apa-apa. Sebab, sesunggguhnya kerja sama para pemimpin agama dengan kalangan kaya dan penguasa, pada prinsipnya, tidak bisa di nilai buruk. Agama bagaimanapun, merupakan rahmat bagi segenap manusia, tak peduli miskin atau kaya, penguasa atau rakyat jelata,di sinilah pemimpin agama menyadari bahwakerja sama mereka tidak lain adalah untuk kepentingan menegakkan keadilan social dan untuk membeli kepentingan orang-orang kecil.
MAKALAH SOSIAL PENDIDIKAN TENTANG AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT
BAB III
KESIMPULAN
Agama mempunyai kaitan yang sangat erat dalam kehidupan bermasyarakat, agama mempunyai fungsi sebagai peranan agama dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris karena keternatasan dan ketidakpastian.
Pentingnya keterlibatan pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan ini adalah dalam aspek pembangunan unsure ruhaniah. Dalam pelaksanaanya. Bahkan pemimpin agama dalam berperan lebih luas; bukan hanya terbatas pada pembangunan ruhani masyarakat tetapi juga dapat berperan sebagai motivator, pembimbing. Dan pembei landasan etis dan moral serta menjadi mediator dalam seluruh kegiatan aspek pembangunan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Agus, Bustanuddin, Agama dalam Kehidupan Masyarakat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006.
2. Scharf, R, Betty, Sosilogi Agama, Fajar Interpratama Offset, Jakarta, 2004.
3. Kahmad, Dadang, Sosiologi Agama, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002.
Download File lengkap makalah agama dan golongan masyarakat versi microsoft Word 2003 dan 2007 klik di download makalah anakciremai
artikel ini bisa di copy tapi tidak bisa di paste agar bisa di kopas klik Disini
MAKALAH SOSIAL PENDIDIKAN TENTANG AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan bermasyarakat agama sangat berperan penting dalam masyarakat, untuk mengatasi prsoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris karena adanya keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Agama, golongan masyarakat, dan fungsi agama?
2. Bagaimana peran agama dalam kehidupan?
3. Apa pengaruh agama dalam kehidupan?
4. Bagaimana peran pemimpin dalam pembangunan?
BAB II
PEMBAHASAN
AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT
A. Pengertian Agama, Golongan Masyarakat, dan Fungsi Agama
Menurut Hendropuspito, agama adalah suatu jenis system social yang dibuat oleh penganut-penganutnya yang berproses pada kekuatan-kekuatan non-empiris yang dipercayai dan didayagunakan untuk mencapai keselamatan bagi mereka dan masyarakat luas umumnya. Dalam kamus sosiologi, pengertian agama ada tiga macam, yaitu (1) kepercayaan pada hal-hal yang spiritual; (2) perangkat kepercayaan dan praktik-praktik spiritual yang dianggap sebagai tujuan tersendiri; (3) ideology mengenai hal-hal yang bersifat supranatural. Sementara itu, Thomas F.O’Dea mengatakan bahwa agama adalah pendayagunaan sarana-sarana supra-empiris untuk maksud-maksud non-empiris atau supra-empiris.
E..B. Tylor dalam buku perintisnya, primitive culture, yang diterbitkan pada tahun 1871. Dia mendefinisikan agama sebagai “ kepercayaan terhadap adanya wujud-wujud spiritual”, definisi dari tylor itu dikritik lebih jauh karena tampaknya definisi itu berimplikasi bahwa sasaran sikap keagamaan selalu berupa wujud personal, padahal bukti antropologik yang semakin banyak jumlahnya menunjukan bahwa wujud spiritual pun sering dipahami sebagai kekuatan impersonal.
Selanjutnya, golongan masyarakat dapat diartikan sebagai penggolongan anggota-anggota masyarakat ke dalam suatu kelompok yang mempunyai karakteristik yang sama atau sejenis. Dalam kamus sosiologi dinyatakan sebagai kategori orang-orang tertentu, dalam suatu masyarakat yang didasarkan pada cirri-ciri mental tertentu.
Berdasarkan definisi di atas, penggolongan masyarakat dapat dibuat berdasarkan cirri yang sama. Misalnya, (1) penggolongan berdasarkan jenis kelamin adalah pria dan wanita; (2) penggolongan berdasarkan usia adalah tua dan muda; (3) penggolongan berdasarkan pendidikan adalah cendekia dan buta huruf; (4) penggolongan berdasarkan pekerjaan adalah petani, nelayan, golongan buruh, pengrajin, pegawai negeri, eksekutif, dan lain-lain. Menurut Hendropuspito, meskipun tidak dapat dibuat berdasarkan kedudukan social yang sama, seperti pada lapisan social, penggolongan ini pada dasarnya untuk kepentingan pengamat social alam penelitian-penelitian terhadap masyarakat.
Adapun yang dimaksud dengan fungsi agama adalah peranan agama dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris karena adanya keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian.
Thomas F. O’Dea menuliskan enam fungsi agama, yaitu (1) sebagai pendukung, pelipur lara, dan perekonsiliasi, (2) sarana hubungan transcendental melalui pemujaan dan pacara ibadat, (3) penguat norma-norma dan nilai-nilai yang sudah ada, (4) pengkoreksi fungsi yang ada, (5) pemberi identitas diri, dan (6) pendewasaan agama. Fungsi agama yang dijelaskan hendrapuspito lebih ringkas lagi, tetapi intinya hampir sama. Menurutnya, fungsi agama itu adalah edukatif, penyelamatan, pengawasan social, memupuk persaudaraan dan transformatif.
B. Agama dan Kehidupan
Kehidupan beragama pada dasarnya merupakan kepercayaan terhadap keyakinan adanya kekuatan ghaib, luar biasa atau supranatural yang berpengaruh terhadap kehidupan individu dan masyarakat, bahkan terhadap segala gejala alam. Kepercayaan beragama yang bertolak dari kekuatan ghaib ini tampak aneh, tidak alamiah dan tidak rasional dalam pandangan individu dan masyarakat modern yang terlalu dipengaruhi oleh pandangan bahwa sesuatu diyakini kalau konkret, rasional, alamiah atau terbukti secara empiric dan ilmiah.
Ketergantungan masyarakat dan individu pada keuatan ghaib ditemukan dari zaman purba sampai ke zaman moden ini, kepercayaan itu diyakini kebenarannya sehingga ia menjadi kepercayaan keagamaan atau kepercayaan religius. Kepercayaan terhadap sucinya sesuatu itu dinamakan dalam antropologi dan sosiologi agama dengan mempercayai sifat sacral pada sesuatu itu, mempercayai sesuatu sebagai yang suci atau sacral juga cirri khas kehidupan beragama, adanya aturan kehidupan yang dipercayai berasal dari Tuhan juga termasuk kehidupan beragama. Semuanya ini menunjukan bahwa kehidupan beragama aneh tapi nyata, dan merupakan gejala universal, ditemukan di mana dan kapan pun dalam kehidupan individu dan masyarakat.
Beragama sebagai gejala universal masyarakat manusia juga diakui oleh Begrson (1859-1941), pemikir prancis. Ia menulis bahwa kita menemukan masyarakat manusia tanpa sains, seni dan filsafat, tetapi tidak pernah ada masyarakat tanpa agama (El-Ehwani dalam sharif, 1963:556).
Di samping universal, kehidupan beragama di zaman modern ini sudah demikian kompleks. Banyak macam agama yang dianut mamusia dewasa ini. Aliran kepercayaan,aliran kebatinan, aliran pemujaan atau yang dikenal dalam ilmu social dengan istilah occultisme juga banyak ditemukan di kalangan masyarakat modern. Kehidupan beragama dewasa ini ada yang dijadikan tempat penyejuk jiwa dan pelarian dari hiruk pikuk ekonomi dan social politik sehari-hari, ada pula yang dijadikan sumber motivasi untuk mencapai kehidupan ekonomi dan social politik, di samping itu kehidupan beragama punya pengaruh terhadap aspek kehidupan yang lain. Anne Marie Malefijt mengungkapkan bahwa agama adalah tipe the most important aspects of culture yang dipelajari oleh ahli antropologi dan ilmuwan social lainnya. Aspek kehidupan beragama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi secara signifikan dengan instutusi budaya yang lain. Ekspresi religius ditemukan dalam budaya material, perilaku manusia,nilai, moral,system keluarga, ekonomi, hokum, politik, pengobatan,sains, teknologi,seni, pemberontakan, perang, dll. Dari apa yang dikemukakan oleh Malefitj adalah bahwa agama mewarnai dan membentuk suatu budaya.
Agama atau minimal pendekatan keagamaan adalah cara yang efektif dalam membentuk kepribadian dan kebudayaan, baik beragama sebagai system social budaya atau sebagai subsistem yang universal sebagai tipe penampilan serta penghayatannya dikalangan kelompok-kelompok masyarakat, dari yang sekedar untuk mencapai kesejukan sampai kepada tidak merasa bersalah tidak melakukan tindakan terror terhadap masyarakat yang tidak berdosa, menjadikannya sangat penting dipahami oleh setiap individu dan lembaga yang berurusan dengan masyarakat.
Terdapat perbedaan kehidupan beragama di kalangan masyarakat primitive dan masyarakat modern. Dalam masyarakat primitive, kehidupan beragama tidak dapat dipisahkan dari aspek kehidupan lain; beragama dan kegiatan sehari-hari menyatu. Beragama merupakan sistam social budaya. Dalam masyarakat modern, kehidupan beragama hanya salah satu aspek dari kehidupan beragama hanya salah satu aspek dari kehidupan sehari-hari.
Geertz mengungkap betapa kompleks dan mendalamnya kehidupan beragama. Agama tampak tumpang tindih dengan kebudayaan (Geertz 1992).Kemudian kompleksitas dan luasnya ruang lingkup ajaran agama dapat dilihat dalam ajaran islam. Sebagai agama wahyu yang terakhir, islam adalah ajaran yang komprehensif dan terpadu, yaitu mencakup bidang ibadat, perkawinan, waris, ekonomi, politik, hubungan internasional, dan seterusnya.
Namun dalam fenomena social budaya, dalam kehidupan umat islam di zaman modern ini, kehidupan beragama menjadi menciut dalam aspek kecil dan kehidupan sehari-hari, yaitu yang berhubungan dengan yang ghaib dan ritual saja. Kehidupan beragama umat islam dewasa ini menjadi subsistem social budayanya. Fenomena penciutan beragama ini karena pengaruh budaya modernism dan sekularisme. Walaupun pengaruh modernism dan sekularisme demikian kuat, ia juga menimbulkan gerakan dan aliran keagamaan dalam rangka melawan dominasi modernism dan sekularisme tersebut, seperti aliran skripturalis dan gerakan terror. Maraknya aliran kebatinan, occultism, aliran ekslusif lainnya menjadikan fenomena kehidupan beragama makin kompleks. Semua ekslusivitas dan kompleksitas kehidupan beragama ini menjadikannya menarik untuk diteliti secara antropologis. Kajian antropologi terhadap berbagai aliran ekslusif juga akan menjelaskan akar-akar budaya dari objek yang dikaji, secara mencoba memahami gejala tesebut dalam konteks budaya yang bersangkutan.
C. Pengaruh Agama Terhadap Golongan Masyarakat
Untuk mengetahui pengaruh agama terhadap masyarakat, ada tiga aspek yang perlu dipelajari, yaitu kebudayaan, system social, dan kepribadian ketiga aspek itu merupakan fenomena social yang prilaku manusia. Maka timbul pertanyaan : sejauh mana fungsi lembaga agama dalam memelihara sistem, apakah lembaga agama terhadap kebudayaan sebagai suatu system? Dan sejauh mana fungsi agama dalam mempertahankan keseimbangan pribadi.
Berkaitan dengan hal ini, Nottingham menjelaskan secara umum tentang hubungan agama dengan masyarakat yang menurutnya, terbagi tipe-tipe. Tampaknya pembagia ini mengikutui konsep August Comte tentang proses tahapan pwembentukan masyarakat. Adapun tipe-tipe yang di maksud Nottingham itu adalah sebagai berikut.
1. Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nilai sacral. Tipe masyarakat ini kecil, terisolasi dan terbelakang. Anggota masyarakatnya menganut agama yang sama. Tidak ada lembaga lain yang relative berkembang selain lembaga keluarga, agama menjadi focus utama bagi pengintegrasian dan persatuan masyarakat dari masyatakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, kemungkinan agama memasukan pengaruh yang sacral ke dalam system nilai-nilai masyarakat sangat mutlak.
2. Masyarakat praindustri yang sedang berkembang. Keadaan masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi yang lebih tinggi daripada tipe pertama. Agama memberikan arti dan ikatan kepada system nilai dalam tipe masyarakat ini. Tetapi, pada saat yang sama, lingkungan yang sacral dan yang sekuler sedikit-banyak masih dapat dibedakan. Misalnya, pada fase-fase kehidupan social masih diisi oleh upacara-upacara keagamaan, tetapi pada sisi kehidupan lain, pada aktivitas sehari-hari, agama kurang mendukung. Agama hanya mendukung masalah adat-istiadat saja.Nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat menempatkan focus utamanya pada pengintegrasian tingkah laku perseorangan, dan pembentukan citra pribadi mempunyai konsekuensi penting bagi agama.Salah satu akibatnya,anggota masyarakat semakin terbiasa dengan penggunaan metode empiris yang berdasarkan penalaran dan efesiensi dalam menanggapi masalah- masalah kemanusiaan sehingga lingkungan yang bersifat sekuler semakin meluas.
Memiliki karakter-karakter yang dikemukakan Notting ham tersebut,tampaknya pengaruh agama terhadap golongan masyarakat pun, jika dilihat dari karakter masing-masing golongan pekerjaan,tidak akan berbeda jauh dengan pengaruh agama terhadap masyarakat yang digambarkan Notting ham secara umum,karna system masyarakat akan mencerminkan budaya masyarakatnya.
1. Golongan petani.Pada umumnya,golongn petani termasuk masyarakat yang terbelakang.Lokasinya berada didaerah terisolasi system masyarakatnya masih sederhana,lembaga-lembaga sosialnyapun belum banyak berkembang.Mata pencaharian utamanya bergantung pada alam yang tidak bisa dipercepat,diperlamba,atau dperhitungkan secara cermat sesuai dengan keinginan petani.Faktor subur tidaknya tanah,dan sebagainya merupakan faktor-faktor yang brada di luar jangkauan petani oleh sebab itu,mereka mencari kekuatan dan kemampuan di luar dirinya yang dipandang mampu dandapat mengatasi semua persoalan yang telah atau akan menimpa dirinya.Maka,diadakanlah upacara-upacara atau ritus-ritus yang dianggap sebagai tolak bala atau menghormati dewa.Menyediakan sesajen bagi Dewi Sri,yang dipercayai sebagai pelindung sawah dan ladang.
Dengan pengamatan selintas pengaruh agama tehadap golongan petani cukup besar.Jiwa keagamaan mereka relaitf lebih besar karena kedekatannya dengan alam.
2. Golongan nelayan.Karakter pekerja golongan nelayan hampir sama dengan karakter golongan petani.Mata pencahariannya berganyung pada keramahan alam.Jika musimnya sedang bagus,tidak ada badai,boleh jadi tangkapan ikannya melimpah.Biasanya pada waktu-waktu tertentu ada semacam upacara untuk menghormati penguasa laut,yang pada masyarakat Indonesia dikenal sebagai Nyi Roro Kidul.Berdasarkan fakta tersebut,pengaruh agama pada kehidupan nelayan dapat dikatakan signifikan.
3. Golongan pengrajin dan pedagang kecil.Golongan pengrajin dan pedagang kecil hidup dalam situasi yang berbeda dengan golongan petani.Kehidupan golongan ini tidak terlalu berkutat dengan situasi alam dan tidak terlalu bergantung pada alam.Hidup mereka didasarkan atas landasan ekonomi yang memerlukan perhitungan rasional.Mereka tidak menyadarkan diri pada keramahan alam yang tidak bisa dipastikan,tetapi lebih mempercayai perencanaan yang teliti danpengarahan yang pasti.
Menurut Weber yang mempelajari sejarah agama-agama dengan cara yang berlaku pada zamannya,yaitu agma Kristen,Yahudi,Islam,Hindu,Budha,dan konfusianisme,Taoisme golongan pengrajin dan pedagang kecil suka menerima pandangan hidup yang mencakup etika pembalasan. Mereka menaati kaidah moral dan pola sopan santun dan percaya bahwa pekerjaan yang baik dilakukan dengan tekun dan teliti akan membawa balas jasa yang setimpal.
4. Golongan pedagang besar.Kategori yang paling menonjol dari golongan pedagang besar adalah memiliki sikapnya yang lain terhadap agama.Pada umumnya kelompok ini mempunyai jiwa yang jauh dari gagasan tentang imbalan jasa (compensation) moral,seperti yang dimiliki golongan tingkat menengah bawah.mereka lebih berorientasi pada kehidupan nyata (mundane) dan cenderung menutup agama profetis dan etis. Perasaan keagamaannya lebih bersifat fungsional, kemampuan yang mereka miliki terletk pada kekuatan ekonominya.
5. Golongan kariyawan.Weber menyebut golongan karyawan sebagai kaum birokrat. Hal ini dilihat dari pembagian fungsi-fungsi kerja yang ada sudah jelas dan adanya penyelesaian suatu masalah kemanusiaan berdasarkan penalaran dan efisiensi.
6. Golongan buruh. Yang dimaksud dengan golongan buruh adalah mereka yang bekerja dalam industri-industri atau perusahan-perusahaan modern. Golongan buruh termasuk kelas proletar yang tidak diikutsertakan dalam kehidupan masyarakat,disingkirkan dari system social yang berlaju.Kelas ini merupakan golongan yang dijadikan sapi perahan untuk meraup keuntungan yang sangat besar oleh kaum borjuis.Agama yang dibutuhkan oleh golongan buruh tampaknya agama yang bisa membebaskan dirinya dari penghisapan tenega kerja segara berlebihan.
7. Golongan tua-muda. Meskipun secara social penggolongan tua muda ini ada, tetapi susah ditentukan batasannya secara praktis. Berdasarkan pengamatan sepintas tersebut, dapat dikatakan bahwa agama pada golongan tua lebih kental dibandingkan dengan golongan muda. Nanun, bila asumsi ini diterapkan pada zaman sekarang, ternyata mengalami kesulitan juga, karena tidak jarang banyak orang yang berumur 40 ke atas berlaku seperti anak muda.
8. Golongan pria-wanita. Secara psikologis, watak umum pria dan wanita berbeda. Dalam menghadapi suatu keadaan, watak pria lebih dominan menggunakan pertimbangan rasional, sedangkan wanita lebih rasa / emosinya.
Jika dlihat secara keseluruhan, tujuan beragama seseorang itu rata-rata untuk nencari ketenangan bathin.Dalam masalah penghayatan keagamaan, tampaknya golongan wanita lebih dominan,karena faktor pembawaan mereka umumnya cenderung emosional.
D. Peranan Pemimpin Dalam Pembangunan
Tujuan pembangunan pada mulanya sederhana saja, yakni memberantas kemiskinan dan menjembatani kesenjangan. Ketika decade pembangunan dicanangkan oleh perserikatan bangsa-bangsa (PBB), segera setelah perang dunia kedua, masalah yang dihadapi saat itu adalah kehancuran ekonomi dan prasarana dari Negara-negara yang kalah atau menjadi korban peperangan. Oleh karena itu,perhatian ulama pembangunan ditekankan pada rehabilitasi dan rekonstruksi sarana-sarana ekonomi.
Membahas peranan para pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan memang sangat menarik, bukan saja lantaran para pemimpin agama merupakan salah satu komponen itu sendiri, melainkan juga pada umumnya pembangunan diorientasikan pada upaya-upaya manusia yang bersifat utuh dan serasi antara kemajuaan aspek lahiriah dan kepuasan aspek bathiniah. Corak pembangunan seperti ini didasarkan pemikiran bahwa keberadaan manusia yang akan dibangun, pada dasarnya, terdiri atas unsure jasmaniah dan unsure ruhaniah. Kedua unsure ini tentu harus terisi dalam proses pembangunan.
Pentingnya keterlibatan para pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan ini adalah dalam aspek pembangunan unsure ruhaniahnya, para pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan tidak bersifat suplementer (pelengkap penderita), tetapi benar-benar menjadi salah satu komponen inti dalam seluruh proses pembangunan. Dalam pelaksanaanya, bahkan para pemimpin agama dapat berperan lebih luas; bukan hanya terbatas pada pembangunan ruhani masyarakat, tetapi juga dapat berperan sebagai motivator, pembimbing, dan pemberi landasan etis dan moral, serta menjadi mediator dalam seluruh aspek kegiatan pembangunan.
1. Pemimpin Agama Sebagai Motivator
Tidak dapat di sangkal bahwa peran para pemimpin agama sebagai motivator pembangunan sudah banyak di akui dan terbukti di masyarakat.
Terlibatnya para pemimpin agama dalam kancah kegiatan pembangunan ini, terutama di dorong oleh kesadaran untk ikut secara aktif memikirkan permasalahan-permasalahan duniawi yang sangat kompleks yang dihadapi umat manusia.Begitu kompleksnya permasalahan yang dihadapi manusia di dunia ini sampai pemerintahan sekuler tidak dapat lagi memecahkannya tanpa bantuan dari pihak pemimpin agama, seperti pemberantasan kemiskinan, mengatasu kesenjangan, mencegah kerusakan lingkungan, dan mencegah terjadinya pelanggaran terhadap hak asasi manusia.Tentu para pemimpin agama tidak dapat diam berpangku tangan dengan mengatakan bahwa agama tidak mengurusi permasalahan umat yang bersifat fisik, Agama hanya mengurusi aspek spiritual damn kehidupan manusia, pemikiran seperti ini akan mengakibatkan agama-agama di dunia ini dijauhioleh umat manusia.
Selain itu, para pemimpin agama juga diharapkan mampu merangsang masyarakat agar berani melakukan perubahan-perubahan kehidupan ke arah yang lebih maju dan sejahtera. Para pemimpin agama dapat memberikan semangat kepada masyarakat untuk selalu giat berusaha, jangan sekali-kali untuk bersifat fatalis. Para pemimpin agama seyogianya memberikan wawasan kepada masyarakat bahwa takdir hanyalah batas akhir dari upaya manusia dalam meraih prestasi.Dengan demikian para pemimpin agama telah mampu membuktikan kemampuannya untuk berbicara secara rasional dan tetap membangkitkan gairah serta aksi masyarakat dalam meraih sesuatu yang dicita-citakannya.
2. Pemimpin Agama Sebagai Pembimbing Moral
Peran kedua yang dimainkan para pemimpin agama di masyarakat dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan adalah peran yang berkaitan dengan upaya-upaya menanamkan prinsip-prinsip etik dan moral masyarakat. Dalam kaitannya, kegiatan pembangunan umumnya selalu menuntut peran aktif para pemimpin agama dalam meletakkan landasan moral, etis, dan spiritual serta peningkatan pengalaman agama, baikdalam kehiduan pribadi maupun social.
Berangkat dari landasan etis dan moral inilah, kegiatan pembangunan lalu diarahkan pada upaya pemulihan harkat dan martabat manusia, harga diri dan kehormatan individu, serta pengakuan atas kedaulatan seseorang atau kelompok untuk mengembangkan diri sesuai dengan keyakinan dan jati diri serta bisikan nuraninya. Di sinilah kemudian nilai-nilai religius yang ditanamkan para pemimpin agama memainkan peranan penting dalam kegiatan pembangunan.
Tuntutan dan patokan yang tertuang dalam kitab suci, teladan para nabi, dan hukum-hukum agama yang merupakan elaborasi dari sabda Tuhan menurut hasil pemikiran para pemuka, pemimpin dan pemikir agama pada masa lalu, mereka jadikan bahan untk membimbing arah kegiatan pembangunan secara menyeluruh.
3. Pemimpin Agama Sebagai Mediator
Peran lain para pemimpin agama yang tidak kalah pentingnya, juga dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan di masyarakat adalah sebagai wakil masyarakat dan seagai pengantar dalam menjalin kerja sama yang harmonis di antara banyak pihak dalam rangka melindungi kepentingan-kepentingannya di masyarakat dan lembaga-lembaga keagamaan yang dipimpinnya.
Untuk membela kepentingan-kepentingan ini, para pemimpin agama biasanya memposisikan diri sebagai mediator di antara beberapa pihak di masyarakat, seperti antara masyarakat dengan elite pengusaha dan antara masyarakat miskin dengan kelompok orang-orang kaya. Melalui pemimpin agama, para elite pengusaha dapat memahami apa yang diinginkan masyarakat, dan sebaliknya elite pengusaha dapat mensosialisasikan program-programnya kepada masyarakat luas melalui bantuan para pemimpin agama.
Munculnya kerja sama antara para pemimpin agama di satu pihak dengn kalangan kaya dan penguasa di pihak lain merupakan fenomena social yang umum terjadi di kalangan umat beragama. Dari sudut formal keagamaan, kerja sama para pemimpin keagamaan dengan kalangan hartawan dan dan penguasa ini memang tidak dapat apa-apa. Sebab, sesunggguhnya kerja sama para pemimpin agama dengan kalangan kaya dan penguasa, pada prinsipnya, tidak bisa di nilai buruk. Agama bagaimanapun, merupakan rahmat bagi segenap manusia, tak peduli miskin atau kaya, penguasa atau rakyat jelata,di sinilah pemimpin agama menyadari bahwakerja sama mereka tidak lain adalah untuk kepentingan menegakkan keadilan social dan untuk membeli kepentingan orang-orang kecil.
MAKALAH SOSIAL PENDIDIKAN TENTANG AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT
BAB III
KESIMPULAN
Agama mempunyai kaitan yang sangat erat dalam kehidupan bermasyarakat, agama mempunyai fungsi sebagai peranan agama dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris karena keternatasan dan ketidakpastian.
Pentingnya keterlibatan pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan ini adalah dalam aspek pembangunan unsure ruhaniah. Dalam pelaksanaanya. Bahkan pemimpin agama dalam berperan lebih luas; bukan hanya terbatas pada pembangunan ruhani masyarakat tetapi juga dapat berperan sebagai motivator, pembimbing. Dan pembei landasan etis dan moral serta menjadi mediator dalam seluruh kegiatan aspek pembangunan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Agus, Bustanuddin, Agama dalam Kehidupan Masyarakat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006.
2. Scharf, R, Betty, Sosilogi Agama, Fajar Interpratama Offset, Jakarta, 2004.
3. Kahmad, Dadang, Sosiologi Agama, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002.
Download File lengkap makalah agama dan golongan masyarakat versi microsoft Word 2003 dan 2007 klik di download makalah anakciremai
Makalah tentang sejarah internet
A.Sejarah internet
Berikut sejarah kemunculan dan perkembangan internet.
Sejarah intenet dimulai pada 1969 ketika Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency(DARPA) memutuskan untuk mengadakan riset tentang bagaimana caranya menghubungkan sejumlah komputer sehingga membentuk jaringan organik. Program riset ini dikenal dengan nama ARPANET. Pada 1970, sudah lebih dari 10 komputer yang berhasil dihubungkan satu sama lain sehingga mereka bisa saling berkomunikasi dan membentuk sebuah jaringan. Tahun 1972, Roy Tomlinson berhasil menyempurnakan program e-mail yang ia ciptakan setahun yang lalu untuk ARPANET. Program e-mail ini begitu mudah sehingga langsung menjadi populer. Pada tahun yang sama, icon @juga diperkenalkan sebagai lambang penting yang menunjukkan "at" atau "pada". Tahun 1973, jaringan komputer ARPANET mulai dikembangkan ke luar Amerika Serikat. Komputer University College di London merupakan komputer pertama yang ada di luar Amerika yang menjadi anggota jaringan Arpanet. Pada tahun yang sama, dua orang ahli komputer yakni Vinton Cerf dan Bob Kahn mempresentasikan sebuah gagasan yang lebih besar, yang menjadi cikal bakal pemikiran internet. Ide ini dipresentasikan untuk pertama kalinya di Universitas Sussex.
Hari bersejarah berikutnya adalah tanggal 26 Maret 1976, ketika Ratu Inggris berhasil mengirimkan e-mail dari Royal Signals and Radar Establishment di Malvern. Setahun kemudian, sudah lebih dari 100 komputer yang bergabung di ARPANET membentuk sebuah jaringan atau network. Pada 1979, Tom Truscott, Jim Ellis dan Steve Bellovin, menciptakan newsgroups pertama yang diberi nama USENET. Tahun 1981 France Telecom menciptakan gebrakan dengan meluncurkan telpon televisi pertama, dimana orang bisa saling menelpon sambil berhubungan dengan video link.
Karena komputer yang membentuk jaringan semakin hari semakin banyak, maka dibutuhkan sebuah protokol resmi yang diakui oleh semua jaringan. Pada tahun 1982 dibentuk Transmission Control Protocol atau TCP dan Internet Protokol atau IP yang kita kenal semua. Sementara itu di Eropa muncul jaringan komputer tandingan yang dikenal dengan Eunet, yang menyediakan jasa jaringan komputer di negara-negara Belanda, Inggris, Denmark dan Swedia. Jaringan Eunet menyediakan jasa e-mail dan newsgroup USENET.
Untuk menyeragamkan alamat di jaringan komputer yang ada, maka pada tahun 1984 diperkenalkan sistem nama domain, yang kini kita kenal dengan DNS atau Domain Name System. Komputer yang tersambung dengan jaringan yang ada sudah melebihi 1000 komputer lebih. Pada 1987 jumlah komputer yang tersambung ke jaringan melonjak 10 kali lipat manjadi 10.000 lebih.
Tahun 1988, Jarko Oikarinen dari Finland menemukan dan sekaligus memperkenalkan IRC atau Internet Relay Chat. Setahun kemudian, jumlah komputer yang saling berhubungan kembali melonjak 10 kali lipat dalam setahun. Tak kurang dari 100.000 komputer kini membentuk sebuah jaringan. Tahun 1990 adalah tahun yang paling bersejarah, ketika Tim Berners Lee menemukan program editor dan browser yang bisa menjelajah antara satu komputer dengan komputer yang lainnya, yang membentuk jaringan itu. Program inilah yang disebut www, atau Worl Wide Web.
Tahun 1992, komputer yang saling tersambung membentuk jaringan sudah melampaui sejuta komputer, dan di tahun yang sama muncul istilah surfing the internet. Tahun 1994, situs internet telah tumbuh menjadi 3000 alamat halaman, dan untuk pertama kalinya virtual-shopping atau e-retail muncul di internet. Dunia langsung berubah. Di tahun yang sama Yahoo! didirikan, yang juga sekaligus kelahiran Netscape Navigator.
B. Perangkat keras akses internet
Modem
Modem adalah singkatan dari modulator-demodulator yaitu alat yang digunakan untuk menghantar dan menerima data dari sebuah PC ke PC lainnya melalui kabel telephone. Modem adalah alat yang bertugas untuk menukar data dari bentuk digital ke analog dan sebaliknya. Dengan adanya modem pengguna PC dapat terkoneksi dengan dunia internet.. Modulator merupakan bagian yang mengubah sinyal informasi kedalam sinyal pembawa (Carrier) dan siap untuk dikirimkan, sedangkan Demodulator adalah bagian yang memisahkan sinyal informasi (yang berisi data atau pesan) dari sinyal pembawa (carrier) yang diterima sehingga informasi tersebut dapat diterima dengan baik. Modem merupakan penggabungan kedua-duanya, artinya modem adalah alat komunikasi dua arah. Setiap perangkat komunikasi jarak jauh dua-arah umumnya menggunakan bagian yang disebut "modem", seperti VSAT, Microwave Radio, dan lain sebagainya, namun umumnya istilah modem lebih dikenal sebagai Perangkat keras yang sering digunakan untuk komunikasi pada komputer.

Modem adalah singkatan dari modulator-demodulator yaitu alat yang digunakan untuk menghantar dan menerima data dari sebuah PC ke PC lainnya melalui kabel telephone. Modem adalah alat yang bertugas untuk menukar data dari bentuk digital ke analog dan sebaliknya. Dengan adanya modem pengguna PC dapat terkoneksi dengan dunia internet.. Modulator merupakan bagian yang mengubah sinyal informasi kedalam sinyal pembawa (Carrier) dan siap untuk dikirimkan, sedangkan Demodulator adalah bagian yang memisahkan sinyal informasi (yang berisi data atau pesan) dari sinyal pembawa (carrier) yang diterima sehingga informasi tersebut dapat diterima dengan baik. Modem merupakan penggabungan kedua-duanya, artinya modem adalah alat komunikasi dua arah. Setiap perangkat komunikasi jarak jauh dua-arah umumnya menggunakan bagian yang disebut "modem", seperti VSAT, Microwave Radio, dan lain sebagainya, namun umumnya istilah modem lebih dikenal sebagai Perangkat keras yang sering digunakan untuk komunikasi pada komputer.
Data dari komputer yang berbentuk sinyal digital diberikan kepada modem untuk diubah menjadi sinyal analog. Sinyal analog tersebut dapat dikirimkan melalui beberapa media telekomunikasi seperti telepon dan radio.
Setibanya di modem tujuan, sinyal analog tersebut diubah menjadi sinyal digital kembali dan dikirimkan kepada komputer. Terdapat dua jenis modem secara fisiknya, yaitu modem eksternal dan modem internal.
Jenis modem
Modem terbagi atas:
1. Modem analog
2. Modem ADSL
3. Modem kabel
4. Modem CDMA
5. Modem 3GP
6. Modem GSM
Webcam

Webcam (singkatan dari web camera) adalah sebutan bagi kamera real-time (bermakna keadaan pada saat ini juga) yang gambarnya bisa diakses atau dilihat melalui World Wide Web, program instant messaging, atau aplikasi video call. Istilah "webcam" juga merujuk kepada jenis kamera yang digunakan untuk keperluan ini.
Webcam biasanya berresolusi sebesar 352x288 / 640x480 piksel. Namun ada yang kualitasnya hingga 1 Megapiksel.
Sekarang hampir semua kamera digital dan HP bisa dijadikan sebagai kamera web (webcam).Banyak manfaat menggunakan webcam yaitu di antaranya kita dapat langsung bertatap muka dengan lawan bicara kita di komputer yang berbeda,dan kita juga bissa mengetahui aktivitas lawan bicara kita itu di komputer pada saat itu juga.
Webcam biasanya berresolusi sebesar 352x288 / 640x480 piksel. Namun ada yang kualitasnya hingga 1 Megapiksel.
Sekarang hampir semua kamera digital dan HP bisa dijadikan sebagai kamera web (webcam).Banyak manfaat menggunakan webcam yaitu di antaranya kita dapat langsung bertatap muka dengan lawan bicara kita di komputer yang berbeda,dan kita juga bissa mengetahui aktivitas lawan bicara kita itu di komputer pada saat itu juga.
Headset adalah gabungan headphone dan mikrofon. Ini dipergunakan untuk berkomunikasi melalui perangkat komunikasi atau komputer misalnya dengan VoIP. Teknologi headset juga sudah merambah dunia komunikasi, khususnya teknologi telpon selular. Headset diciptakan pertama kali pada tahun 1910 oleh Nathaniel Baldwin, mahasiswa Universitas Stanford. Namun penemuannya ini tidak langsung menjadi perhatian, karena layaknya penemu-penemu zaman itu, Baldwin tidak berminat untuk memproduksi temuannya secara massal. Pada Perang Dunia I, angkatan laut Amerika mengetahui penemuan Baldwin dan memesan 100 headset untuk keperluan perang. Semenjak itulah masyarakat mulai sadar dengan teknologi ini, bahkan pada 1961 headset masuk ke kokpit pesawat, pilot menyukainya karena headset ringan dan nyaman dipakai. Headset pertama kali digunakan untuk pesawat telpon adalah pada tahun 1970. Pada awal 2000, bersamaan dengan meledaknya telpon selular, headset nirkabel berbasis teknologi Bluetooth mulai popular.
Headset untuk mengakses internet digunakan untuk chating. Penggunanya yang terkoneksi ke Internet dapat melakukan pembicaraan dengan headset mikrofon dan speaker (atau sebuah headset) ke pengguna lainnya yang tergabung dalam jaringan tersebut.
Pembicaraan dapat dilakukan secara real-time tanpa terputus-putus serta suara yang didapat terasa “tebal” dan jernih. Terlebih lagi bila melakukan pembicaraan konferensi multi-partit, dengan headset saya dapat melakukannya sambil mengemil makanan dan minuman. Semuanya hanya dengan pulsa Internet lokal! Bayangkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan jika menggunakan jalur telepon milik Telkom.
Sayangnya, teknologi ini baru bisa dimanfaatkan untuk komunikasi antarpengguna PC. Untuk menghubungi telepon biasa sepertinya sedang dalam tahap pengembangan dan saya duga nantinya fitur ini tidak gratis. Jika nantinya biaya yang kita keluarkan untuk fitur ini ternyata lebih murah dari tarif Telkom, tentu saja tidak ada alasan untuk tidak memanfaatkannya.
kelanjutannya klik Disini
Makalah seni budaya
Indonesia merupakan negeri yang penuh dengan keindahan alam budaya serta kaya akan hasil alamnya. Jika oarang asing datang ke indonesia pasti ia kagum dengan indahnya negeri ini. Begitu banyak peninggalan sejarah yang tak terlupakan.
Hal ini manjadika indonesia semangkin terkenal ke Kancah dunia internasional. Indonesia yang terbagi menjadi beberapa pulau besar juga di kelilingi ribuan pulau kecil nan indah menambah indahnya negeri ini. Sudah sepatutnya kita bersyukur dengan anugrah tuhan yang tiada tandingnya.
Letak indonesia yang terpecah-pecah menjadikan indonesi semakin indah. Karena hampir setiap daerah indonesia memiliki pantai-pantai yang indah dan memiliki ciri khas sendiri. Kita sendiri takkan mampu untuk menghitung berapa banyak kendahan dan budaya yang telah tercipta di indonesia.
Bahkan indonesia juga terkenal akan pahlawan yang tangguh dan hebat serta penuh dengan keberanian. Bahkan sikap pantang menyerah juga melekat dalam jati diri bangsa indonesia. Tidak sedikit pula prestasi yang di dapatkan oleh bangsa ini, baik dalam olahrga, seni (menyanyi, menari),ilmu pengetahuan maupun teknologi.
Indonesia juga merupakan salah satu negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Seperti, minyak bumi, batu bara, timah, emas dan lainya. Indonesia juga memiliki sebush gunung yang merupakan salah satu puncak gunung tertinggi di dunia, dan memiliki ciri yang unik yaitu, memiliki sebuah es abadi di puncak gunungnya.
Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara maju seperti, Amerika Serikat dan dan jepang. Jadi jangan pernah malu unyuk belajar dan melestarikan budaya kita. Bertolak dari gagasan tersebut kita akan menjadi tertarik untuk terus mengadakan dialog semacam itu dengan berbagai keindahan nusantara ini, baik dari budaya atupun alam sekitar yang mendukung majunya pariwisata di negeri ini. Seperti budaya kita yang telah kemanca negara dan keindahan wisata baharinya. Namun keindahan ini semua tidaklah terlepas dari perjuangan pahlawan kita yang telah memperjuangkan bangasa ini dari para pnjajah yang ingin menguasai negeri yang kita cintai ini. Perjuangan para pahlawan bukan hanya mengorbankan harta benda, bahkan jiwa,raga dan nyawa juga telah di pertaruhkan oleh pahlawan kita yang tidak pernah lelah berjuang selama ratusan tahun. Menjaga dan melestarikan negeri ini merupakan suatu balasan yang harus kita lagukan untuk para pahlawan yang telah mempertahankan negeri ini.
Dalam kesempatan pembuatan makalah ini, kami menggunakan metode perpustakaan. Karena kami ingin memanfaatkan buku-buku yang kini jarang di gunakan oleh para siswa untuk membaca.
Makalah Sejarah Pancasila
BAB I
PENDAHULUAN
A . LATAR BELAKANG
Sejarah telah mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin yang makin baik, di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.
Bahwasanya Pancasila yang telah diterima dan ditetapkan sebagai dasar negara seperti tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa, yang telah diuji kebenaran, kemampuan dan kesaktiannya, sehingga tak ada satu kekuatan manapun juga yang mampu memisahkan Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia.
Menyadari bahwa untuk kelestarian kemampuan dan kesaktian Pancasila itu, perlu diusahakan secara nyata dan terus menerus penghayatan dan pengamamalan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya oleh setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara serta setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah.
B . BATASAN MASALAH
Untuk menghidari adanya kesimpangsiuran dalam penyusunan makalah ini, maka penulis membatasi masalah-masalah yang akan di bahas diantaranya:
1. Bagaimana sejarah pancasila?
2. Siapa-siapa yang terlibat dalam perumusan pancasila?
C . TUJUAN
Dalam menyusun makalah ini penulis mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
1. Penulis ingin mengetahui sejarah pancasila.
2. Penulis ingin mengetahui siapa-siapa yang terlibat dalam perumusan pancasila.
BAB II
SEJARAH PANCASILA
Mari kita telusuri fakta-fakta sejarah tentang kelahiran pancasila. Dalam rapat BPUPKI pada tanggal 1 juni 1945, Bung Karno menyatakan antara lain:”Saya mengakui, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah H.B.S. di Surabaya, saya dipengaruhi seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya, – katanya : jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan seluruh dunia, jangan mempunyai rasa kebangsaan sedikitpun. Itu terjadi pada tahun 1917. akan tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, ia adalah Dr. Sun Yat Sen ! Di dalam tulisannya “San Min Cu I” atau “The THREE people’s Principles”, saya mendapatkan pelajaran yang membongkar kosmopolitanisme yang diajarkan oleh A. Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh“The THREE people’s Principles” itu. Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah bahwasanya Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat dengan sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, -sampai masuk ke liang kubur.”
Lebih lanjut ketika membicarakan prinsip keadilan sosial, Bung Karno, sekali lagi menyebutkan pengaruh San Min Cu I karya Dr. Sun Yat Sen:”Prinsip nomor 4 sekarang saya usulkan. Saya didalam tiga hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu kesejahteraan, prinsip: tidak ada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka. Saya katakan tadi prinsipnya San Min Cu I ialah “Mintsu, Min Chuan , Min Sheng” : Nationalism, democracy, socialism. Maka prinsip kita …..harus …… sociale rechtvaardigheid.”
Pada bagian lain dari pidato Bung Karno tersebut, dia menyatakan:”Maka demikian pula jikalau kita mendirikan negara Indonesia merdeka, Paduka tuan ketua, timbullah pertanyaan: Apakah Weltanschaung” kita, untuk mendirikan negara Indonesia merdeka di atasnya?Apakah nasional sosialisme ? ataukah historisch-materialisme ? Apakah San Min Cu I, sebagai dikatakan oleh Dr. Sun Yat Sen ? Di dalam tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka, tapi “Weltanschaung” telah dalam tahun 1885, kalau saya tidak salah, dipikirkan, dirancangkan. Di dalam buku “The THREE people’s Principles” San Min Cu I,-Mintsu, Min Chuan , Min Sheng” : Nationalisme, demokrasi, sosialisme,- telah digunakan oleh Dr. Sun Yat Sen Weltanschaung itu, tapi batu tahun 1912 beliau mendirikan negara baru di atas “Weltanschaung” San Min Cu I itu, yang telah disediakan terlebih dahulu berpuluh-puluh tahun.” (Tujuh Bahan Pokok demokrasi, Dua – R. Bandung, hal. 9-14.)
Pengaruh posmopolitanisme (internasionalisme) kaya A. Baars dan San Min Cu I kaya Dr. Sun Yat Sen yang diterima bung Karno pada tahun 1917 dan 1918 disaat ia menduduki bangku sekolah H.B.S. benar-benar mendalam. Ha ini dapat dibuktikan pada saat Konprensi Partai Indonesia (partindo) di Mataram pada tahun 1933, bung Karno menyampaikan gagasan tentang marhaennisme, yang pengertiannya ialah :
(a) Sosio – nasionalisme, yang terdiri dari : Internasionalisme, Nasionalisme
(b) Sosio – demokrasi, yang tersiri dari : Demokrasi, Keadilan sosial.
Jadi marhaenisme menurut Bung Karno yang dicetuskan pada tahun 1933 di Mataram yaitu : Internasionalisme ; Nasionalisme ; Demokrasi : Keadilan sosial. (Endang Saifuddin Anshari MA. Piagam Jakarta, 22 Juni 1945, Pustaka Bandung1981, hql 17-19.)
Dan jika kita perhatikan dengan seksama, akan jelas sekali bahwa 4 unsur marhainisme seluruhnya diambil dari Internasionalisme milik A. Baars dan Nasionalisme, Demokrasi serta keadilan sosial (sosialisme) seluruhnya diambil dari San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen.
Sekarang marilah kita membuktikan bahwa pancasila yang dicetuskan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI adalah sama dengan Marheinisme yang disampaikan dalam Konprensi Partindo di Mataram pada tahun 1933, yang itu seluruhnya diambil dari kosmopolitanisme milik A. Baars dan San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen.
Di dalam pidato Bung Karno pada tanggal 1 juni 1945 itu antara lain berbunyi :”Saudara-saudara ! Dasar negara telah saya sebutkan, lima bilangannya. Inikah Panca Dharma ? Bukan !Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar…..Namanya bukan Panca Dharma, tetaoi….saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa…..namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi. Kelima sila tadi berurutan sebagai berikut:
(a) Kebangsaan Idonesia;
(b) Internasionalisme atau peri-kemanusiaan;
(c) Mufakat atau domokrasi;
(d) Kesejahteraan sosial;
(e) Ke-Tuhanan.
(Pidato Bung Karno pada tanggal 1 juni 1945 dimuat dalam “20 tahun Indonesia Merdeka” Dep. Penerangan RI. 1965.)
Kelima sila dari Pancasila Bung Karno ini, kita cocokkan dengan marhaenisme Bung Karno adalah persis sama, Cuma ditambah dengan Ke Tuhanan. Untuk lebih jelasnya baiklah kita susun sebagai berikut:
(a) Kebangsaan Indonesia berarti sama dengan nasionalisme dalam marhaenisme, juga sama dengan nasionalisme milik San Min Cu I milik Dr. Sun yat Sen, Cuma ditambah dengan kata-kata Indonesia.
(b) Internasionalisme atau peri-kemanusiaan berarti sama dengan internasionalisme dalam marhaenisme, juga sama dengan internasionalisme (kosmopolitanisme) milik A. Baars.
(c) Mufakat atau demokrasi berarti sama dengan demokrasi dalam marhaenisme, juga sama dengan demokrasi dalam San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen;
(d) Kesejahteraan sosial berarti sama dengan keadilan sosial dalam marhaenisme, juga berarti sama dengan sosialisme dalam San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen.
(e) Ke-Tuhanan yang diambil dari pendapat-pendapat para pemimpin Islam, yang berbicara lebih dahulu dari Bung Karno, di dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 juni 1945.
Dengan cara mencocokkan seperti ini, berarti nampak dengan jelas bahwa Pancasila yang dicetuskan oleh Bung Karno pada tanggal 1 juni 1945, yang merupakan”Rumus Pancasila I”, sehingga dijadikan Hari Lahirnya Pancasila, berasal dari 3 sumber yaitu:
a) Dari San Min Cu I Dr. Sun Yat Sen (Cina);
b) Dari internasionalisme (kosmopolitanisme A. Baars (Belanda).
c) Dari umat Islam.
Jadi Pancasila 1 juni 1945, adalah bersumber dari : (1) Cina; (2) Belanda; dan (3) Islam. Dengan begitu bahwa pendapat yang menyatakan Pancasila itu digali dari bumi Indonesia sendiri atau dari peninggalan nenek moyang adalah sangat keliru dan salah !
Sebagaimana telah dimaklumi bahwa sebelum sidang pertama BPUPKI itu berakhir, dibentuklah satu panitia kecil untuk :
a) Merumuskan kembali Pancasila sebagai dasar negara, berdasarkan pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945.
b) Menjadikan dokumen itu sebagai teks untuk memproklamirkan Indonesia merdeka.
Dari dalam panitia kecil itu dipilih lagi 9 orang untuk menyelenggarakan tugas itu. Rencana mereka itu disetujui pada tanggal 22 Juni 1945, yang kemudian diberikan nama dengan “Piagam Jakarta”.
Piagam Jakarta berbunyi:
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri-keadilan.
Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampai kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat rahmat Alloh Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan bebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.
Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa dan ikut melasanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu hukum Dasar Negara Indonesia yang berdasar kedaulatan rakyat, dengan berdasar kepada : Ke- Tuhanan, dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk – kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indinesia.”
Jakarta, 22-6-1605.
Ir. SOEKARNO ;
Drs. Mohammad Hatta ;
Mr. A.A Maramis ;
Abikusno Tjokrosujoso ;
Abdul Kahar Muzakir ;
H.A. Salim ;
Mr. Achmad Subardjo ;
Wachid Hasjim ;
Mr. Muhammad Yamin
(Moh. Hatta dkk. Op.cit. hal. 30-32)
Dengan begitu, maka Pancasila menurut Piagam Jakarta 22 Juni 1945, dan ini merupakan Rumus Pancasila II, berbeda dengan Rumus Pancasila I. Lebih jelasnya Rumus Pancasila II ini adalah sebagai berikut ;
a) Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya;
b) Kemanusiaan yang adil dan beradab ;
c) Persatuan Indonesia ;
d) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan ;
e) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Rumus Pancasila II ini atau lebih dikenal dengan Pancasila menurut Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, baik mengenai sitimatikanya maupun redaksinya sangat berbeda dengan Rumus Pancasila I atau lebih dikenal dengan Pancasila Bung Karno tanggal 1 juni 1945. pada rumus pancasila I, Ke-Tuhanan yang berada pada sila kelima, sedangkan pada Rumus Pancasila II, ke-Tuhanan ada pada sila pertama, ditambah dengan anak kalimat – dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Kemudian pada Rumus Pancasila I, kebangsaan Indonesia yang berada pada sila pertama, redaksinya berubah sama sekali menjadi Persatuan Indonesia pada Rumus Pancasila II, dan tempatnyapun berubah yaitu pada sila ketiga. Demikian juga pada Rumus Pancasila I . Internasionalisme atau peri kemanusiaan, yang berada pada sila kedua, redaksinya berubah menjadi Kemanusiaan yang adil dan beradab. Selanjutnya pada Rumus Pancasila I, Mufakat atau Demokrasi, yang berbeda pada sila ketiga, redaksinya berubah sama sekali pada Rumus Pancasila II, yaitu menjadi Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan menempati sila keempat. Dan juga pada Rumus Pancasila I, kesejahteraan sosial yang berada pada sila keempat, baik redaksinya, maka Pancasila pada Rumus II ini, tentunya mempunyai pengertian yang jauh berbeda dengan Pancasila pada Rumus I.
Rumus Pancasila II ini atau yang lebih populer dengan nama Pancasila menurut Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945, yang dikerjakan oleh panitia 9, maka pada rapat terakhir BPUPKI pada tanggal 17 Juni 1945, secara bulat diterima rumus Pancasila II ini.
Sehari sesudah proklamasi, yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945, terjadilah rapat “Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia” (PPKI). Panitia ini dibentuk sebelum proklamasi dan mulai aktip bekerja mulai tanggal 9 Agustus 1945 dengan beranggotakan 29 orang. Dengan mempergunakan rancangan yang telah dipersiapkan oleh BPUPKI, maka PPKI dapat menyelesiakan acara hari itu, yaittu:
a) Menetapkan Undang-Undang Dasar ; dan
b) Memilih Presidan dan Wakil Presiden dalam waktu rapat selama 3 jam.
Dengan demikian terpenuhilah keinginan Bung Karno yang diucapkan pada waktu membuka rapat itu sebagai ketua panitia dengan kata-kata sebagai berikut ; “Tuan-tuan sekalian tentu mengetahui dan mengakui, bahwa kita duduk di dalam suatu zaman yang beralih sebagai kilat cepatnya. Maka berhubungan dengan itu saya minta sekarang kepada tuan-tuan sekalian, supaya kitapun bertindak di dalam sidang ini dengan kecepatan kilat.”
Sedangkan mengenai sifat dari Undang-Undang Dasarnya sendiri Bung Karno berkata:”Tuan-tuan tentu mengerti bahwa ini adalah sekedar Undang-Undang Dasar sementara, Undang-Undang Dasar Kilat, bahwa barangkali boleh dikatakan pula, inilah revolutie grodwet. Nanti kita akan membuat undang-Undang Dasar yang lebih sempurna dan lengkap. Harap diingat benar-benar oleh tuan-tuan, agar kita ini harus bisa selesai dengan Undang-Undang Dasar itu.”
Dalam beberapa menit saja, tanpa ada perdebatan yang substansil disahkan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, dengan beberapa perubahan, khususnya dalam rumus pancasila. (Pranoto Mangkusasmito, Pancasila dan sejarahnya, Lembaga Riset Jakarta, 1972, hal. 9-11.)
Adapun Pembukaan undang-Undang Dasar, yang didalamnya terdapat Rumus Pancasila II, yang disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, adalah sebagai berikut :
PEMBUKAAN
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri-keadilan.
Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampai kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan bebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.
Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melasanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam satu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada : Ke- Tuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Dengan demikian disahkannya Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, maka Rumus Pancasila mengalami perubahan lagi, yaitu:
a) Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
b) Kemanusiaan yang adil dan beradab ;
c) Persatuan Indonesia ;
d) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan ;
e) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Perubahan esensial dari Rumus Pancasila II atau Pancasila menurut Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 dengan Rumus Pancasila III atau Pancasila menurut Pembukaan Undang-Undang Dasar tanggal 18 Agustus 1945, yaitu pada sila pertama “Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” diganti dengan “Ke-Tuhanan Yang Maha Esa” . perubahan ini ternyata dikemudian hari menumbuhkan benih pertentangan sikap dan pemikiran yang tak kunjung berhenti sampai hari ini. Sebab umat Islam menganggap bahwa pencoretan anak kalimat pada sila pertama Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, oleh PPKI adalah suatu pengkhianatan oleh golongan nasionalis dan kristen. Karena Rumus Pancasila II telah diterima secara bulat oleh BBUPKI pada tanggal 17 Juli 1945.
Selanjutnya melalui aksi militer Belanda ke-I dan ke- II , dan dibentuknya negara-negara bagian oleh Belanda, pemberontakan PKI di Madiun, statemen Roem Royen yang mengembalikan Bung Karno dan kawan-kawannya dari Bangka ke Jogjakarta, sedangkan Presiden darurat RI pada waktu itu ialah Mr. Syafruddin Prawiranegara, sampailah sejarah negara kita kepada konfrensi meja bundar di Den Haag (Nederland). Konfrensi ini berlangsung dari tanggal 23 Agustus 1949 sampai tanggal 2 November 1949. dengan ditandatanganinya “Piagam Persetujuan” antara delegasi Republik Indonesia dan delegasi pertemmuan untuk permusyawaratan federal (B.F.O.) mengenai “Konstitusi Republik Indinesia Serikat” (RIS) di Seyeningen pada tanggal 29 Oktober 1949, maka ikut berubahlah Rumus Pancasila III menjadi Rumus Pancasila IV. Rumus Pancasila IV ini termuat dalam muqadimah Undang-Undang Dasar Republik Indinesia Serikat (RIS), yang bunyinya sebagai berikut:
Mukadimah
Kami bangsa Indonesia semenjak berpuluh-puluh tahun lamanya bersatu padu dalam perjuangan kemerdekaan, dengan senantiasa berhati teguh berniat menduduki hak hidup sebagai bangsa yang merdeka berdaulat.
Ini dengan berkat dan rahmat Tuhan telah sampailah kepada ringkatan sejarah yang berbahagia dan luhur.
Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami itu dalam satu piagam negara yang berbentuk Republik Federasi berdasarkan pengakuan “Ketuhanan Yang Maha Esa, Peri kemanusiaan, Kebangsaan, Kerakyatan dan keadilan sosial.”
Untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia Merdeka yang berdaulat sempurna.
Secara jelasnya Rumus Pancasila IV atau pancasila menurut mukadimah Undang-Undang Dasar RIS tanggal 29 Oktober 1949, adalah sebagai berikut;
a. Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
b. Peri-Kemanusiaan.
c. Kebangsaan.
d. Kerakyatan dan
e. Keadilan sosia.
Perubahan yang terjadi antara Rumus Pancasila II dengan Rumus Pancasila IV adalah perubahan redaksional yang sangat banyak, yang sudah barang tentu akan membawa akibat pengertian pancasila itu menjadi berubah pula.
Republik Indinesia Serikat tidak berumur sampai 1 tahun. Pada tanggal 19 Mei 1950 ditanda tangani “Piagam Persetujuan” antara pemerintah RIS dan pemerintah RI. Dan pada tanggal 20 Juli 1950 dalam pernyataan bersama kedua pemerintah dinyatakan, antara lain menyetujui rencana Undang-Undang Dasar sementara negara kesatuan Republik Indonesia seperti yang dilampirkan pada pernyataan bersama”. Pembukaan Undang-Undang Dasar sementara negara kesatuan Repiblik Indonesia seperti yang dilampirkan pada pernyataan bersama. Pembukaan Undang-Undang Dasar sementara 1950, yang didalamnya terdapat rumus Pancasila, adalah sebagai berikut;
Mukadimah
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Dengan berkat dan rahmat Tuhan tercapailah tingkat sejarah yang berbahagia dan luhur.
Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami itu dalam suatu piagam negara yang berbentuk Republik Kesatuan, berdasarkan pengakuan ketuhanan yang maha esa, peri kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan dan keadilan sosial, untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, dan kemerdekaan yang berdaulat sempurna”.
Untuk jelasnya Rumus Pancasila di dalam mukadimah Undang-Undang Dasar sementara dapat disusun sebagai berikut;
a) Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
b) Peri-Kemanusiaan.
c) Kebangsaan.
d) Kerakyatan dan
e) Keadilan sosial.
Rumus Pancasila dalam mukadimah Undang-Undang Dasar sementara adalah merupakan rumus pancasila V. dan ternyata antara Rumus Pancasila IV dan Rumus Pancasila V tidak ada perubahan baik sistimatikanya maupun redaksinya.
Tetapi setelah dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, yang menyatakan “Pembubaran kostituante dan tidak berlakunya lagi Undang-Undang Dasar 1945”, Rumus Pancasila mengalami perubahan, baik redaksinya maupun pengertiannya secara esensial dan mendasar. Sebab setelah itu Bung Karno merumuskan Pancasila dengan menggunakan “ Teori Perasan” yaitu pancasila itu diperasnya menjadi tri sila ( tiga sila) : sosionasionalisme (yang mencakup kebangsaan Indonesia dan peri kemanusiaan); Sosio demokrasi (yang mencakup demokrasi dan kesejahteraan sosial dan ketuhanan. Trisila ini diperas lagi menjadi Ekasila (satu sila); Ekasila itu tidak lain ialah gotong-royong. Dan gotong royong diwujudkan oleh Bung Karno dalam bentuk nasakom (nasional, agama dan komunis).
Lebih jelasnya teori perasan Bung Karno dapat disusun sebagai berikut:
1. Pancasila itu diperasnya menjadi tri sila (tiga sila).
2. Trisila terdiri atas:
a) Sosionasionalisme
b) Sosio
c) Ketuhanan.
3. Trisila diperas menjadi Ekasila
4. Ekasila yaitu gotong-royong.
Teori perasan Bung Karno ni bukan masalah baru, tetapi itulah hakekat Pancasila yang ia lahirkan pada tanggal 1 Juni 1945; dan hal ini dapat dilihat dari pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 di depan BPUPKI, yang antara lain berbunyi, “Atau barang kali ada saudara-saudara yang tidak senang adas bilangan itu ? Saya boleh peras sehingga tinggal tiga saja. Saudara Tanya kepada saya apakah perasan tiga perasan itu ? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia, Weltanschaung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme; kebangsaan dan peri kemanusiaan, saya peras menjadi satu : itulah yang dahulu saya namakan socio-nationalisme. Dan demokresi yang bukan demokrasi barat, tetapi pilitiek economiche democratie, yaitu pilitieke democratie dengan sociale rechtvaardigheid, demikrasi dengan kesejahteraan saya peraskan pula menjadi satu. Inilah yang dulu saya namakan socio democratie.
Tinggal lagi ketuhanan yang menghormati satu sama lain.
Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: socionationalisme, sociodemocratie dan ketuhanan. Kalau tuan senang dengan simbul tiga ambillah yang tiga ini. Tetapui barangkali tidak semua tuan-tuan senang kepada trisila ini, dan minta satu dasar saja ? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu ? ……Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan gotong-royong ! alangkah hebatnya ! negara gotong-royong.
Selain “teori perasan’ Pancasila, Bung Karno menjabarkan dan melengkapi Pancasila itu dengan Manifesto Politik ( Manipol ) dan USDEK ( Undang-Undang Dasar 45, Sosialisme Indonesis, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribaian Indonesia). Hal ini bisa kita jumpai di dalam “Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi”, ynag antara lain menyatakan : “Ada orang menanya : Kepada Manifesto Polotik ? Kan kita sudah mempunyai Pancasila? Manifesto Politik adalan pancaran dari Pancasila; USDEK adalah pemancaran dari pada Pancasila. Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila adalah terjalin satu salam lain. Manifesto politik, USDEK dan pancasila tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika saya harus mengambil qiyas agama – sekadar qiyas – maka saya katakan : Pancasila adalah semacam Qur’annya dan Manifesto Politik dan USDEK adalah semacam Hadits-haditsnya. Awas saya tidak mengatakan bahwa Pancasila adalah Qur’an dan Manifsesto Politik dan USDEK adalah hadits ! Qur’an dan Hadits shahih merupakan satu kesatuan, – maka pancasila dan Manifesto politik dan USDEK adalah merupakan satu kesatuan. Teori perasan Pancasila yang dilengkapi dengan manifesto Politik dan USDEK adalah merupakan Rumus Pancasila VI.
Dengan Naskaom memberi peluang yang besar kepada golongan komunis seperti Partai Komunis Indonesia ( PKI ) untuk memasuki berbagai instansi sipil dan militer. Dominasi komunis di dalam pemerintahan dan berbagai sektor kehidupan, memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan kudeta dan perebutan kekuasaan; meletuslah Gerakan 30 September PKI.
Meletusnya G 30 S / PKI dari kandungan Nasakom, yang membawa runtuhnya rezim Orde Lama, menurut regim Orde baru disebabkan oleh penyelewengan pancasila dari rel yang sebenarnya. Oleh karena itu rezim Orde Baru mencanangkan semboyan “Laksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekwen”.
Menurut Orde baru, khususnya angkatan ’66, bahwa penyelewengan Pancasila oleh rezim orde Lama disebabkan “belum jelasnya filsafat Pancasila dan belum adanya tafsiran yang terperinci”. Pendapat ini bisa dilihat dari kesimpulan “Simposium Kebangkitan Generasi ’66 Menjelajah Tracee baru”, yang diselenggarakan pada tanggal 6 mei 1966, bertempat di Universitas Indonesia; yang isinya antara lain sebagai berikut : Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam undang-undang dasar ’45 pasal 1 ayat 2 yang berbunyi: “Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR.” Dan juga terdapat dalam pasal 3 yang berbunyi: “MPR menetapkan undang-undang dasar dan garis-garis besar pada haluan negara.”
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa Pancasila sebagai dasar negara sesungguhnya berisi:
1. Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, serta ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
3. Persatuan Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, dan ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan.
BAB III
PENUTUP
A . KESIMPULAN
Pancasila adalah pandangan hidup bangsa dan dasar negara Republik Indonesia. Pancasila juga merupakan sumber kejiwaan masyarakat dan negara Republik Indonesia. Maka manusia Indonesia menjadikan pengamalan Pancasila sebagai perjuangan utama dalam kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan kengaraan. Oleh karena itu pengalamannya harus dimulai dari setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara yang secara meluas akan berkembang menjadi pengalaman Pancasila oleh setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik dipusat maupun di daerah.
B . SARAN
Berdasarkan uraian di atas kiranya kita dapat menyadari bahwa Pancasila merupakan falsafah negara kita republik Indonesia, maka kita harus menjungjung tinggi dan mengamalkan sila-sila dari Pancasila tersebut dengan setulus hati dan penuh rasa tanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA
http://info.g-excess.com/id/info/SejarahLahirnyaPancasilasebagaiIdeologidan
DasarNegara.info
http://eri32.wordpress.com/2009/07/31/sejarah-lahirnya-pancasila/
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan khadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya lah sehingga penulis dapat menyelasaikan tugas makalah ini dengan judul “SEJARAH LAHIRNYA PANCASILA”.
Kami menyadari sepenuhnya sebagai manusia biasa, bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak lupt dari segala kekurangan. Sumbangan saran dan kritik sangat kami harapkan demi kesempurnaan tugas ini semoga yang kami kerjakan ini memiliki arti yang baik dan bermanfaat bagi kita semua, khusunya penulis.. AMIN.
Rappang, January 2010
Penulis
kelanjutannya klik Disini
PENDAHULUAN
A . LATAR BELAKANG
Sejarah telah mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin yang makin baik, di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.
Bahwasanya Pancasila yang telah diterima dan ditetapkan sebagai dasar negara seperti tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa, yang telah diuji kebenaran, kemampuan dan kesaktiannya, sehingga tak ada satu kekuatan manapun juga yang mampu memisahkan Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia.
Menyadari bahwa untuk kelestarian kemampuan dan kesaktian Pancasila itu, perlu diusahakan secara nyata dan terus menerus penghayatan dan pengamamalan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya oleh setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara serta setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah.
B . BATASAN MASALAH
Untuk menghidari adanya kesimpangsiuran dalam penyusunan makalah ini, maka penulis membatasi masalah-masalah yang akan di bahas diantaranya:
1. Bagaimana sejarah pancasila?
2. Siapa-siapa yang terlibat dalam perumusan pancasila?
C . TUJUAN
Dalam menyusun makalah ini penulis mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
1. Penulis ingin mengetahui sejarah pancasila.
2. Penulis ingin mengetahui siapa-siapa yang terlibat dalam perumusan pancasila.
BAB II
SEJARAH PANCASILA
Mari kita telusuri fakta-fakta sejarah tentang kelahiran pancasila. Dalam rapat BPUPKI pada tanggal 1 juni 1945, Bung Karno menyatakan antara lain:”Saya mengakui, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah H.B.S. di Surabaya, saya dipengaruhi seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya, – katanya : jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan seluruh dunia, jangan mempunyai rasa kebangsaan sedikitpun. Itu terjadi pada tahun 1917. akan tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, ia adalah Dr. Sun Yat Sen ! Di dalam tulisannya “San Min Cu I” atau “The THREE people’s Principles”, saya mendapatkan pelajaran yang membongkar kosmopolitanisme yang diajarkan oleh A. Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh“The THREE people’s Principles” itu. Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah bahwasanya Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat dengan sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, -sampai masuk ke liang kubur.”
Lebih lanjut ketika membicarakan prinsip keadilan sosial, Bung Karno, sekali lagi menyebutkan pengaruh San Min Cu I karya Dr. Sun Yat Sen:”Prinsip nomor 4 sekarang saya usulkan. Saya didalam tiga hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu kesejahteraan, prinsip: tidak ada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka. Saya katakan tadi prinsipnya San Min Cu I ialah “Mintsu, Min Chuan , Min Sheng” : Nationalism, democracy, socialism. Maka prinsip kita …..harus …… sociale rechtvaardigheid.”
Pada bagian lain dari pidato Bung Karno tersebut, dia menyatakan:”Maka demikian pula jikalau kita mendirikan negara Indonesia merdeka, Paduka tuan ketua, timbullah pertanyaan: Apakah Weltanschaung” kita, untuk mendirikan negara Indonesia merdeka di atasnya?Apakah nasional sosialisme ? ataukah historisch-materialisme ? Apakah San Min Cu I, sebagai dikatakan oleh Dr. Sun Yat Sen ? Di dalam tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka, tapi “Weltanschaung” telah dalam tahun 1885, kalau saya tidak salah, dipikirkan, dirancangkan. Di dalam buku “The THREE people’s Principles” San Min Cu I,-Mintsu, Min Chuan , Min Sheng” : Nationalisme, demokrasi, sosialisme,- telah digunakan oleh Dr. Sun Yat Sen Weltanschaung itu, tapi batu tahun 1912 beliau mendirikan negara baru di atas “Weltanschaung” San Min Cu I itu, yang telah disediakan terlebih dahulu berpuluh-puluh tahun.” (Tujuh Bahan Pokok demokrasi, Dua – R. Bandung, hal. 9-14.)
Pengaruh posmopolitanisme (internasionalisme) kaya A. Baars dan San Min Cu I kaya Dr. Sun Yat Sen yang diterima bung Karno pada tahun 1917 dan 1918 disaat ia menduduki bangku sekolah H.B.S. benar-benar mendalam. Ha ini dapat dibuktikan pada saat Konprensi Partai Indonesia (partindo) di Mataram pada tahun 1933, bung Karno menyampaikan gagasan tentang marhaennisme, yang pengertiannya ialah :
(a) Sosio – nasionalisme, yang terdiri dari : Internasionalisme, Nasionalisme
(b) Sosio – demokrasi, yang tersiri dari : Demokrasi, Keadilan sosial.
Jadi marhaenisme menurut Bung Karno yang dicetuskan pada tahun 1933 di Mataram yaitu : Internasionalisme ; Nasionalisme ; Demokrasi : Keadilan sosial. (Endang Saifuddin Anshari MA. Piagam Jakarta, 22 Juni 1945, Pustaka Bandung1981, hql 17-19.)
Dan jika kita perhatikan dengan seksama, akan jelas sekali bahwa 4 unsur marhainisme seluruhnya diambil dari Internasionalisme milik A. Baars dan Nasionalisme, Demokrasi serta keadilan sosial (sosialisme) seluruhnya diambil dari San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen.
Sekarang marilah kita membuktikan bahwa pancasila yang dicetuskan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI adalah sama dengan Marheinisme yang disampaikan dalam Konprensi Partindo di Mataram pada tahun 1933, yang itu seluruhnya diambil dari kosmopolitanisme milik A. Baars dan San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen.
Di dalam pidato Bung Karno pada tanggal 1 juni 1945 itu antara lain berbunyi :”Saudara-saudara ! Dasar negara telah saya sebutkan, lima bilangannya. Inikah Panca Dharma ? Bukan !Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar…..Namanya bukan Panca Dharma, tetaoi….saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa…..namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi. Kelima sila tadi berurutan sebagai berikut:
(a) Kebangsaan Idonesia;
(b) Internasionalisme atau peri-kemanusiaan;
(c) Mufakat atau domokrasi;
(d) Kesejahteraan sosial;
(e) Ke-Tuhanan.
(Pidato Bung Karno pada tanggal 1 juni 1945 dimuat dalam “20 tahun Indonesia Merdeka” Dep. Penerangan RI. 1965.)
Kelima sila dari Pancasila Bung Karno ini, kita cocokkan dengan marhaenisme Bung Karno adalah persis sama, Cuma ditambah dengan Ke Tuhanan. Untuk lebih jelasnya baiklah kita susun sebagai berikut:
(a) Kebangsaan Indonesia berarti sama dengan nasionalisme dalam marhaenisme, juga sama dengan nasionalisme milik San Min Cu I milik Dr. Sun yat Sen, Cuma ditambah dengan kata-kata Indonesia.
(b) Internasionalisme atau peri-kemanusiaan berarti sama dengan internasionalisme dalam marhaenisme, juga sama dengan internasionalisme (kosmopolitanisme) milik A. Baars.
(c) Mufakat atau demokrasi berarti sama dengan demokrasi dalam marhaenisme, juga sama dengan demokrasi dalam San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen;
(d) Kesejahteraan sosial berarti sama dengan keadilan sosial dalam marhaenisme, juga berarti sama dengan sosialisme dalam San Min Cu I milik Dr. Sun Yat Sen.
(e) Ke-Tuhanan yang diambil dari pendapat-pendapat para pemimpin Islam, yang berbicara lebih dahulu dari Bung Karno, di dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 juni 1945.
Dengan cara mencocokkan seperti ini, berarti nampak dengan jelas bahwa Pancasila yang dicetuskan oleh Bung Karno pada tanggal 1 juni 1945, yang merupakan”Rumus Pancasila I”, sehingga dijadikan Hari Lahirnya Pancasila, berasal dari 3 sumber yaitu:
a) Dari San Min Cu I Dr. Sun Yat Sen (Cina);
b) Dari internasionalisme (kosmopolitanisme A. Baars (Belanda).
c) Dari umat Islam.
Jadi Pancasila 1 juni 1945, adalah bersumber dari : (1) Cina; (2) Belanda; dan (3) Islam. Dengan begitu bahwa pendapat yang menyatakan Pancasila itu digali dari bumi Indonesia sendiri atau dari peninggalan nenek moyang adalah sangat keliru dan salah !
Sebagaimana telah dimaklumi bahwa sebelum sidang pertama BPUPKI itu berakhir, dibentuklah satu panitia kecil untuk :
a) Merumuskan kembali Pancasila sebagai dasar negara, berdasarkan pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945.
b) Menjadikan dokumen itu sebagai teks untuk memproklamirkan Indonesia merdeka.
Dari dalam panitia kecil itu dipilih lagi 9 orang untuk menyelenggarakan tugas itu. Rencana mereka itu disetujui pada tanggal 22 Juni 1945, yang kemudian diberikan nama dengan “Piagam Jakarta”.
Piagam Jakarta berbunyi:
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri-keadilan.
Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampai kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat rahmat Alloh Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan bebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.
Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa dan ikut melasanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu hukum Dasar Negara Indonesia yang berdasar kedaulatan rakyat, dengan berdasar kepada : Ke- Tuhanan, dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk – kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indinesia.”
Jakarta, 22-6-1605.
Ir. SOEKARNO ;
Drs. Mohammad Hatta ;
Mr. A.A Maramis ;
Abikusno Tjokrosujoso ;
Abdul Kahar Muzakir ;
H.A. Salim ;
Mr. Achmad Subardjo ;
Wachid Hasjim ;
Mr. Muhammad Yamin
(Moh. Hatta dkk. Op.cit. hal. 30-32)
Dengan begitu, maka Pancasila menurut Piagam Jakarta 22 Juni 1945, dan ini merupakan Rumus Pancasila II, berbeda dengan Rumus Pancasila I. Lebih jelasnya Rumus Pancasila II ini adalah sebagai berikut ;
a) Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya;
b) Kemanusiaan yang adil dan beradab ;
c) Persatuan Indonesia ;
d) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan ;
e) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Rumus Pancasila II ini atau lebih dikenal dengan Pancasila menurut Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, baik mengenai sitimatikanya maupun redaksinya sangat berbeda dengan Rumus Pancasila I atau lebih dikenal dengan Pancasila Bung Karno tanggal 1 juni 1945. pada rumus pancasila I, Ke-Tuhanan yang berada pada sila kelima, sedangkan pada Rumus Pancasila II, ke-Tuhanan ada pada sila pertama, ditambah dengan anak kalimat – dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Kemudian pada Rumus Pancasila I, kebangsaan Indonesia yang berada pada sila pertama, redaksinya berubah sama sekali menjadi Persatuan Indonesia pada Rumus Pancasila II, dan tempatnyapun berubah yaitu pada sila ketiga. Demikian juga pada Rumus Pancasila I . Internasionalisme atau peri kemanusiaan, yang berada pada sila kedua, redaksinya berubah menjadi Kemanusiaan yang adil dan beradab. Selanjutnya pada Rumus Pancasila I, Mufakat atau Demokrasi, yang berbeda pada sila ketiga, redaksinya berubah sama sekali pada Rumus Pancasila II, yaitu menjadi Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan menempati sila keempat. Dan juga pada Rumus Pancasila I, kesejahteraan sosial yang berada pada sila keempat, baik redaksinya, maka Pancasila pada Rumus II ini, tentunya mempunyai pengertian yang jauh berbeda dengan Pancasila pada Rumus I.
Rumus Pancasila II ini atau yang lebih populer dengan nama Pancasila menurut Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945, yang dikerjakan oleh panitia 9, maka pada rapat terakhir BPUPKI pada tanggal 17 Juni 1945, secara bulat diterima rumus Pancasila II ini.
Sehari sesudah proklamasi, yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945, terjadilah rapat “Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia” (PPKI). Panitia ini dibentuk sebelum proklamasi dan mulai aktip bekerja mulai tanggal 9 Agustus 1945 dengan beranggotakan 29 orang. Dengan mempergunakan rancangan yang telah dipersiapkan oleh BPUPKI, maka PPKI dapat menyelesiakan acara hari itu, yaittu:
a) Menetapkan Undang-Undang Dasar ; dan
b) Memilih Presidan dan Wakil Presiden dalam waktu rapat selama 3 jam.
Dengan demikian terpenuhilah keinginan Bung Karno yang diucapkan pada waktu membuka rapat itu sebagai ketua panitia dengan kata-kata sebagai berikut ; “Tuan-tuan sekalian tentu mengetahui dan mengakui, bahwa kita duduk di dalam suatu zaman yang beralih sebagai kilat cepatnya. Maka berhubungan dengan itu saya minta sekarang kepada tuan-tuan sekalian, supaya kitapun bertindak di dalam sidang ini dengan kecepatan kilat.”
Sedangkan mengenai sifat dari Undang-Undang Dasarnya sendiri Bung Karno berkata:”Tuan-tuan tentu mengerti bahwa ini adalah sekedar Undang-Undang Dasar sementara, Undang-Undang Dasar Kilat, bahwa barangkali boleh dikatakan pula, inilah revolutie grodwet. Nanti kita akan membuat undang-Undang Dasar yang lebih sempurna dan lengkap. Harap diingat benar-benar oleh tuan-tuan, agar kita ini harus bisa selesai dengan Undang-Undang Dasar itu.”
Dalam beberapa menit saja, tanpa ada perdebatan yang substansil disahkan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, dengan beberapa perubahan, khususnya dalam rumus pancasila. (Pranoto Mangkusasmito, Pancasila dan sejarahnya, Lembaga Riset Jakarta, 1972, hal. 9-11.)
Adapun Pembukaan undang-Undang Dasar, yang didalamnya terdapat Rumus Pancasila II, yang disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, adalah sebagai berikut :
PEMBUKAAN
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri-keadilan.
Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampai kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan bebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.
Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melasanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam satu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada : Ke- Tuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Dengan demikian disahkannya Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, maka Rumus Pancasila mengalami perubahan lagi, yaitu:
a) Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
b) Kemanusiaan yang adil dan beradab ;
c) Persatuan Indonesia ;
d) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan ;
e) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Perubahan esensial dari Rumus Pancasila II atau Pancasila menurut Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 dengan Rumus Pancasila III atau Pancasila menurut Pembukaan Undang-Undang Dasar tanggal 18 Agustus 1945, yaitu pada sila pertama “Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” diganti dengan “Ke-Tuhanan Yang Maha Esa” . perubahan ini ternyata dikemudian hari menumbuhkan benih pertentangan sikap dan pemikiran yang tak kunjung berhenti sampai hari ini. Sebab umat Islam menganggap bahwa pencoretan anak kalimat pada sila pertama Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, oleh PPKI adalah suatu pengkhianatan oleh golongan nasionalis dan kristen. Karena Rumus Pancasila II telah diterima secara bulat oleh BBUPKI pada tanggal 17 Juli 1945.
Selanjutnya melalui aksi militer Belanda ke-I dan ke- II , dan dibentuknya negara-negara bagian oleh Belanda, pemberontakan PKI di Madiun, statemen Roem Royen yang mengembalikan Bung Karno dan kawan-kawannya dari Bangka ke Jogjakarta, sedangkan Presiden darurat RI pada waktu itu ialah Mr. Syafruddin Prawiranegara, sampailah sejarah negara kita kepada konfrensi meja bundar di Den Haag (Nederland). Konfrensi ini berlangsung dari tanggal 23 Agustus 1949 sampai tanggal 2 November 1949. dengan ditandatanganinya “Piagam Persetujuan” antara delegasi Republik Indonesia dan delegasi pertemmuan untuk permusyawaratan federal (B.F.O.) mengenai “Konstitusi Republik Indinesia Serikat” (RIS) di Seyeningen pada tanggal 29 Oktober 1949, maka ikut berubahlah Rumus Pancasila III menjadi Rumus Pancasila IV. Rumus Pancasila IV ini termuat dalam muqadimah Undang-Undang Dasar Republik Indinesia Serikat (RIS), yang bunyinya sebagai berikut:
Mukadimah
Kami bangsa Indonesia semenjak berpuluh-puluh tahun lamanya bersatu padu dalam perjuangan kemerdekaan, dengan senantiasa berhati teguh berniat menduduki hak hidup sebagai bangsa yang merdeka berdaulat.
Ini dengan berkat dan rahmat Tuhan telah sampailah kepada ringkatan sejarah yang berbahagia dan luhur.
Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami itu dalam satu piagam negara yang berbentuk Republik Federasi berdasarkan pengakuan “Ketuhanan Yang Maha Esa, Peri kemanusiaan, Kebangsaan, Kerakyatan dan keadilan sosial.”
Untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia Merdeka yang berdaulat sempurna.
Secara jelasnya Rumus Pancasila IV atau pancasila menurut mukadimah Undang-Undang Dasar RIS tanggal 29 Oktober 1949, adalah sebagai berikut;
a. Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
b. Peri-Kemanusiaan.
c. Kebangsaan.
d. Kerakyatan dan
e. Keadilan sosia.
Perubahan yang terjadi antara Rumus Pancasila II dengan Rumus Pancasila IV adalah perubahan redaksional yang sangat banyak, yang sudah barang tentu akan membawa akibat pengertian pancasila itu menjadi berubah pula.
Republik Indinesia Serikat tidak berumur sampai 1 tahun. Pada tanggal 19 Mei 1950 ditanda tangani “Piagam Persetujuan” antara pemerintah RIS dan pemerintah RI. Dan pada tanggal 20 Juli 1950 dalam pernyataan bersama kedua pemerintah dinyatakan, antara lain menyetujui rencana Undang-Undang Dasar sementara negara kesatuan Republik Indonesia seperti yang dilampirkan pada pernyataan bersama”. Pembukaan Undang-Undang Dasar sementara negara kesatuan Repiblik Indonesia seperti yang dilampirkan pada pernyataan bersama. Pembukaan Undang-Undang Dasar sementara 1950, yang didalamnya terdapat rumus Pancasila, adalah sebagai berikut;
Mukadimah
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Dengan berkat dan rahmat Tuhan tercapailah tingkat sejarah yang berbahagia dan luhur.
Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami itu dalam suatu piagam negara yang berbentuk Republik Kesatuan, berdasarkan pengakuan ketuhanan yang maha esa, peri kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan dan keadilan sosial, untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, dan kemerdekaan yang berdaulat sempurna”.
Untuk jelasnya Rumus Pancasila di dalam mukadimah Undang-Undang Dasar sementara dapat disusun sebagai berikut;
a) Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.
b) Peri-Kemanusiaan.
c) Kebangsaan.
d) Kerakyatan dan
e) Keadilan sosial.
Rumus Pancasila dalam mukadimah Undang-Undang Dasar sementara adalah merupakan rumus pancasila V. dan ternyata antara Rumus Pancasila IV dan Rumus Pancasila V tidak ada perubahan baik sistimatikanya maupun redaksinya.
Tetapi setelah dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, yang menyatakan “Pembubaran kostituante dan tidak berlakunya lagi Undang-Undang Dasar 1945”, Rumus Pancasila mengalami perubahan, baik redaksinya maupun pengertiannya secara esensial dan mendasar. Sebab setelah itu Bung Karno merumuskan Pancasila dengan menggunakan “ Teori Perasan” yaitu pancasila itu diperasnya menjadi tri sila ( tiga sila) : sosionasionalisme (yang mencakup kebangsaan Indonesia dan peri kemanusiaan); Sosio demokrasi (yang mencakup demokrasi dan kesejahteraan sosial dan ketuhanan. Trisila ini diperas lagi menjadi Ekasila (satu sila); Ekasila itu tidak lain ialah gotong-royong. Dan gotong royong diwujudkan oleh Bung Karno dalam bentuk nasakom (nasional, agama dan komunis).
Lebih jelasnya teori perasan Bung Karno dapat disusun sebagai berikut:
1. Pancasila itu diperasnya menjadi tri sila (tiga sila).
2. Trisila terdiri atas:
a) Sosionasionalisme
b) Sosio
c) Ketuhanan.
3. Trisila diperas menjadi Ekasila
4. Ekasila yaitu gotong-royong.
Teori perasan Bung Karno ni bukan masalah baru, tetapi itulah hakekat Pancasila yang ia lahirkan pada tanggal 1 Juni 1945; dan hal ini dapat dilihat dari pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 di depan BPUPKI, yang antara lain berbunyi, “Atau barang kali ada saudara-saudara yang tidak senang adas bilangan itu ? Saya boleh peras sehingga tinggal tiga saja. Saudara Tanya kepada saya apakah perasan tiga perasan itu ? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia, Weltanschaung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme; kebangsaan dan peri kemanusiaan, saya peras menjadi satu : itulah yang dahulu saya namakan socio-nationalisme. Dan demokresi yang bukan demokrasi barat, tetapi pilitiek economiche democratie, yaitu pilitieke democratie dengan sociale rechtvaardigheid, demikrasi dengan kesejahteraan saya peraskan pula menjadi satu. Inilah yang dulu saya namakan socio democratie.
Tinggal lagi ketuhanan yang menghormati satu sama lain.
Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: socionationalisme, sociodemocratie dan ketuhanan. Kalau tuan senang dengan simbul tiga ambillah yang tiga ini. Tetapui barangkali tidak semua tuan-tuan senang kepada trisila ini, dan minta satu dasar saja ? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu ? ……Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan gotong-royong ! alangkah hebatnya ! negara gotong-royong.
Selain “teori perasan’ Pancasila, Bung Karno menjabarkan dan melengkapi Pancasila itu dengan Manifesto Politik ( Manipol ) dan USDEK ( Undang-Undang Dasar 45, Sosialisme Indonesis, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribaian Indonesia). Hal ini bisa kita jumpai di dalam “Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi”, ynag antara lain menyatakan : “Ada orang menanya : Kepada Manifesto Polotik ? Kan kita sudah mempunyai Pancasila? Manifesto Politik adalan pancaran dari Pancasila; USDEK adalah pemancaran dari pada Pancasila. Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila adalah terjalin satu salam lain. Manifesto politik, USDEK dan pancasila tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika saya harus mengambil qiyas agama – sekadar qiyas – maka saya katakan : Pancasila adalah semacam Qur’annya dan Manifesto Politik dan USDEK adalah semacam Hadits-haditsnya. Awas saya tidak mengatakan bahwa Pancasila adalah Qur’an dan Manifsesto Politik dan USDEK adalah hadits ! Qur’an dan Hadits shahih merupakan satu kesatuan, – maka pancasila dan Manifesto politik dan USDEK adalah merupakan satu kesatuan. Teori perasan Pancasila yang dilengkapi dengan manifesto Politik dan USDEK adalah merupakan Rumus Pancasila VI.
Dengan Naskaom memberi peluang yang besar kepada golongan komunis seperti Partai Komunis Indonesia ( PKI ) untuk memasuki berbagai instansi sipil dan militer. Dominasi komunis di dalam pemerintahan dan berbagai sektor kehidupan, memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan kudeta dan perebutan kekuasaan; meletuslah Gerakan 30 September PKI.
Meletusnya G 30 S / PKI dari kandungan Nasakom, yang membawa runtuhnya rezim Orde Lama, menurut regim Orde baru disebabkan oleh penyelewengan pancasila dari rel yang sebenarnya. Oleh karena itu rezim Orde Baru mencanangkan semboyan “Laksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekwen”.
Menurut Orde baru, khususnya angkatan ’66, bahwa penyelewengan Pancasila oleh rezim orde Lama disebabkan “belum jelasnya filsafat Pancasila dan belum adanya tafsiran yang terperinci”. Pendapat ini bisa dilihat dari kesimpulan “Simposium Kebangkitan Generasi ’66 Menjelajah Tracee baru”, yang diselenggarakan pada tanggal 6 mei 1966, bertempat di Universitas Indonesia; yang isinya antara lain sebagai berikut : Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam undang-undang dasar ’45 pasal 1 ayat 2 yang berbunyi: “Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR.” Dan juga terdapat dalam pasal 3 yang berbunyi: “MPR menetapkan undang-undang dasar dan garis-garis besar pada haluan negara.”
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa Pancasila sebagai dasar negara sesungguhnya berisi:
1. Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, serta ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
3. Persatuan Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, dan ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan.
BAB III
PENUTUP
A . KESIMPULAN
Pancasila adalah pandangan hidup bangsa dan dasar negara Republik Indonesia. Pancasila juga merupakan sumber kejiwaan masyarakat dan negara Republik Indonesia. Maka manusia Indonesia menjadikan pengamalan Pancasila sebagai perjuangan utama dalam kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan kengaraan. Oleh karena itu pengalamannya harus dimulai dari setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara yang secara meluas akan berkembang menjadi pengalaman Pancasila oleh setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik dipusat maupun di daerah.
B . SARAN
Berdasarkan uraian di atas kiranya kita dapat menyadari bahwa Pancasila merupakan falsafah negara kita republik Indonesia, maka kita harus menjungjung tinggi dan mengamalkan sila-sila dari Pancasila tersebut dengan setulus hati dan penuh rasa tanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA
http://info.g-excess.com/id/info/SejarahLahirnyaPancasilasebagaiIdeologidan
DasarNegara.info
http://eri32.wordpress.com/2009/07/31/sejarah-lahirnya-pancasila/
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan khadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya lah sehingga penulis dapat menyelasaikan tugas makalah ini dengan judul “SEJARAH LAHIRNYA PANCASILA”.
Kami menyadari sepenuhnya sebagai manusia biasa, bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak lupt dari segala kekurangan. Sumbangan saran dan kritik sangat kami harapkan demi kesempurnaan tugas ini semoga yang kami kerjakan ini memiliki arti yang baik dan bermanfaat bagi kita semua, khusunya penulis.. AMIN.
Rappang, January 2010
Penulis
kelanjutannya klik Disini


